manisnya sebuah ‘tamparan’
Suatu ‘pemberontakan’ baru telah dimulai. ‘Pemberontakan’ melawan kesenioritasan, ke-amoral-an, keasusilaan, yang dirayakan dengan sangat meriah di sebuah sub institusi pendidikan yang mendedikasikan dirinya pada budaya dan kebudayaan. Sebuah subinstitusi yang yang seharusnya mengajarkan kearifan budaya local sehingga mampu meningkatkan eksistensi hakikat manusia. Manusia Indonesia yang bermoral, beradab dan bermartabat.
Sungguh, manusia tak ‘kan pernah lepas dari kesalahan-kesalahan dan kebiadaban, serta kemerosotan akal sehatnya. Namun, apakah beberapa landasan di atas lantas dijadikan acuan untuk mengucapkan “selamat datang” kepada calon kader-kader pemimpin bangsa yang tengah berbangga hati dapat menempuh study lanjutan di sebuah institusi dan subinstitusi yang telah banyak mengharumkan nama Indonesia?!Kita hanya berteriak lantang membela budaya dan kebudayaan sendiri ketika kedua sub istilah tersebut “diculik”!Sungguh sesuatu yang patut direnungkan!Kita terlalu banyak berbicara politik, ekonomi, hukum dan hal-hal makro lain. Tapi keengganan mulai timbul ketika suara-suara sumbang mulai mengumandangkan kearifan budaya lokal sebagai suatu refleksi, sebagai acuan moral akan kebobrokan mental bangsa yang tak ‘kan pernah merdeka meski telah diproklamasikan 63 tahun yang lalu!Pantaslah jika masalah-masalah makro tak berujung pangkal penyelesaiannya oleh karena manusianya tak pernah menghargai identitas kearifan budaya sendiri. Budaya dan kebudayaan Indonesia!Kita lebih bangga, lebih eksis dengan budaya dan kebudayaan hedonis, kesenioritasan, perploncoan yang diluar batas kemanusiaan, bahkan mungkin kehewanan!Budaya dan kebudayaan Indonesia dinilai kolot!Tidak modern!Dan istilah-istilah “bawah” lain untuk mengidentifikasi diri sebagai manusia Indonesia. Pancasila sudah tak mampu lagi menyaring sekian juta, bahkan triliun kesintingan modernisasi dan globalisasi.
Hendaknya petisi awal yang dikumandangkan pada 24 Oktober 2008 lalu menjadi lecutan bagi para civitas akademika yang tengah menyandang “gelar” sang sastrawan, sang budayawan, sang arkeolog, sang antropolog maupun sang-sang lainnya, yang terlahir dari subinstitusi ilmu budaya. Jika saudara-saudara semua masih ingin mendapat citra sebagai manusia yang berbudaya, beradab, bermoral dan berhakikat Indonesia. :cool:
![]()
Related posts:







