Mata
Mata
Aku adalah seorang narapidana di sel kelas 1…..bisa dibilang ini adalah sel kelas VIP, setiap sel hanya dihuni oleh satu orang, hampir setiap sel mempunyai sarana televisi, radio, kamar mandi, dan setiap hari makanan selalu diantar dua kali sehari oleh penjaga sipir. Jika bosan dengan makanan yang itu – itu saja, dan punya cukup uang, biasanya satu atau seluruh narapidana kelas ini selalu berjalan kesalah satu kantin yang berada diujung sel dekat pintu menuju lapangan rutan, aku sendiri baru 3 bulan disini, kasusku karena narkoba, dan orang tuaku rela mengeluarkan kocek sampai jutaan rupiah demi menempatkan aku disini, aku agak merasa sedikit aneh dengan lingkungan disini, kenapa tidak ada seorangpun narapidana kelas lainnya yang makan dikantin itu, sepertinya seluruh penghuni sel kelas 1 ini memang sengaja di istimewakan.
Hampir setiap hari aku tidak pernah mendengar suara riuh para tahanan disel kelas 1 ini, semuanya terlihat tenang, bahkan ada yang terlihat seperti seorang bos yang selalu berpakaian rapi dan selalu menggenggam handphonenya, batinku mengatakan, mungkin dia memang seorang yang banyak harta, sampai – sampai seluruh kebutuhannya terpenuhi, individualisme sepertinya agak berlaku disepanjang sel kelas ini, hampir seluruhnya cuek dan nggak perduli satu sama lain.
Sedangkan seorang tahanan yang selnya berada persis dihadapanku ini, sepertinya dia seorang seniman….bila aku lihat dari penampilannya yang agak sedikit lusuh dan serampangan, rambutnya gondrong dan dibiarkan tergerai tanpa disisir, bewok dan jenggot yang cukup lebat, kaus oblong bertuliskan “ blindness “, celana pendek sampai selutut, sandal jepit, dan rokok kretek yang hampir ia hisap setiap hari, ia lebih sering diam, menulis dengan tangan kirinya sambil duduk di kasur dan senderan didinding….awalnya aku kira ia ingin menulis surat untuk sanak famili atau keluarganya, tapi….sepertinya lebih dari itu, hampir setiap hari aku melihat ia menulis dibuku catatannya yang cukup tebal itu, bila aku disuruh menebak, mungkin ia sedang mengeluarkan seluruh unek – unek yang mengganjal didalam hatinya.
Tanpa suara, ia terus menulis dengan tatapan mata yang penuh emosi, entah sudah berapa lembar kertas ia habiskan untuk menulis, ia sudah ada disini sebelum aku dipindahkan ke sel ini 3 bulan yang lalu. Paling – paling jika ia ingin makan atau kekamar mandi saja ia baru berhenti menulis.
Hari ini mulutku asem karena tidak ada rokok sama sekali, aku lihat ada bungkus rokok disebelahnya, ingin sekali aku minta rokoknya.
“Eeee…pak….pak” sapaku sambil berdiri memegang jeruji besi dan menatapnya.
Sip!!, batinku sedikit gembira, ia mulai berhenti menulis dan melihatku dengan tatapan yang tajam.
“Eee, boleh minta rokoknya gak?” pintaku dengan wajah yang manis “nggak banyak kok cuma sebatang aja”
Ia hanya terdiam sambil terus menatapku seperti itu, dan tangan kanannya mulai meraih bungkus rokok yang ada disebelahnya.
Aku terus menatapnya dengan wajah manis hingga iapun terbangun dan melemparkan bungkusan rokok itu kearahku…berhasil aku menangkapnya, begitu aku buka ternyata isinya memang tinggal satu, kunyalakan korek gasku dan asap mulai keluar dari ujung batang rokok yang aku hisap itu.
Ia kembali menulis tanpa berkata sepatah katapun, dan aku berdiri sambil bersandar diujung jeruji sel yang aku tempati ini.
Aku mencoba mengajaknya berinteraksi.
“Lagii,ngapain sich pak?, kayaknya serius banget deh”
Ia masih saja terdiam dan terus menulis.
“Heh, percuma aja lu ngajak dia ngomong, dia itu bisu tau gak” cetus tahanan disebelahnya yang berbadan gendut.
“Masa sich?” responku kearahnya.
“Kalo dia bisa ngomong kenapa dia diem aja” cetusnya kembali sambil tiduran.
“Ehem!!” suaranya mulai terdengar seperti menggertak, spontan aku terkejut.
“Oh….ternyata ada suaranya…oooh, ternyata selama ini gua salah duga, hahahaha”
Akupun tertawa begitu mendengar suaranya, baru kali ini juga aku mendengar suaranya.
Ia mulai menutup bukunya dan meletakkannya dimeja dekat kasurnya, sepertinya ia mulai lelah, sementara penanya masih saja ia genggam.
Ia berdiri dan menatapku dengan mata penuh misteri, tajam tapi cukup bersahabat. Perlahan ia berjalan menuju jeruji besinya yang berada kurang lebih 2 meter didepan tempatku berdiri.
“Ini adalah sarana…..dan otak kamu itu…..adalah pusatnya” serunya sambil menunjukkan penanya kearahku.
Aku menelan ludahku sesaat dan terus menatap wajahnya yang sedikit tertutupi rambutnya yang berantakan.
“Maksud bapak apa?” tanyaku penasaran dengan ucapannya.
“Kamu bisa mengejutkan dunia ini, dengan sejumlah ide yang selama ini bersembunyi dikepalamu….dan memuntahkannya melalui tinta yang keluar dari ujung sebuah pena…..” serunya perlahan tapi jelas sambil menatapku dengan tatapan yang masih saja seperti itu.
Aku mengangkat kedua alisku dan terus menatapnya, bisa dibilang hanya beberapa kali saja ia berkedip dalam waktu sekian menit, sorot matanya terus tertuju kepadaku, hingga seluruh tulang rusukku rasanya keram tak bisa bergerak. Jangan – jangan dia bisa menghipnotis orang, begitu kataku dalam hati.
“Dan cukup dengan sebuah pena, kamu bisa membuat orang tercengang…” serunya kembali setelah ia terdiam beberapa saat.
Aku mengerutkan dahi begitu mendengar kata – katanya yang menurutku agak sulit untuk dimengerti itu, aku menunduk sesaat sambil memegang erat jeruji besi ditempat aku berdiri, kemudian iapun kembali berjalan menuju kasurnya.
Aku melihatnya terbaring sambil menatap langit – langit ruangannya, tanpa pikir panjang lagi akupun berjalan menuju kasurku sambil menghisap rokok pemberiannya itu, sesaat aku duduk dulu sebelum tiduran.
Kulihat jam didinding ruang tahananku sudah menunjukkan pukul 9 malam, akupun membaringkan tubuhku dan mulai terlelap.
****
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasa setiap hari minggu diadakan kerja bakti secara massal, seluruh tahanan mulai dari kelas 1 sampai kelas 4 diwajibkan untuk membersihkan area LP, mulai dari ruang tahanan sendiri, WC umum, Masjid, lapangan rutan, sampai taman yang ada didepan LP.
Beberapa sipir mulai beraksi memukul setiap jeruji sel kelas 1, itu berarti sudah tidak ada waktu lagi untuk bermalas – malasan didalam sel. Untung aku sudah terbangun dari pukul 5 pagi, jadi aku sudah siap untuk kerja bakti.
Seorang sipir datang dan memukul jeruji besiku beberapa kali.
“Hey, kamu sama dia setelah membersihkan ruangan masing – masing, keluar dari kelas dan bersihkan taman depan LP” ujarnya cukup tegas kearahku dan kearah tahanan didepanku.
“Maksud bapak hanya saya sama dia aja?” tanyaku serius.
“Ya” sahutnya tegas kemudian berjalan dan memerintah tahanan disebelahku dan seterusnya.
Aneh, biasanya nggak begini, kenapa cuma aku sama dia aja yang disuruh piket ke taman?, tak lama kemudian semua pintu sel kelas satu dibuka satu – persatu dan seluruh tahananpun keluar untuk menjalankan tugasnya masing – masing.
Aku keluar dengan seragam tahananku dan orang yang semalam memberiku rokok itupun keluar dengan tatapan mata yang terlihat sedikit sedih.
Aku belum tahu namanya, tapi ia malah bersikap seolah sudah akrab denganku, sedikit senyum dan merangkulku sambil berjalan menuju taman, aku merasakan sesuatu yang sangat beda dengan yang kualami semalam, aku benar – benar tenang berjalan dengannya.
“Berapa usia kamu?” tanyanya lembut.
“Dua enam” jawabku sambil berjalan dengannya.
Perlahan ia melepaskan rangkulannya dan berjalan tenang bersamaku menuju taman.
****
Beberapa langkah kemudian kami tiba di taman, ternyata tidak hanya aku dengannya saja yang ditugaskan piket di taman, banyak tahanan kelas lainnya yang sudah berada disana.
Aku langsung mengambil sapu dan membersihkan rumput taman, sedangkan ia mengambil sebuah gunting rumput.
Ia berjalan menuju rumput – rumput yang terlihat agak panjang sementara aku berjalan menuju dekat pagar taman.
Sambil menyapu, sesekali aku melihat matanya yang penuh mistery itu, beda banget dengan mataku yang agak sayup karena sering minum obat – obatan, seumur hidupku sampai saat ini, baru kali ini aku melihat mata yang seperti itu, seperti memendam amarah yang sangat dahsyat, seperti menelan dilemma hidup yang teramat berat, seperti orang yang menahan rasa sakit yang teramat dalam didalam tubuhnya, tapi itu semua seakan ditahan olehnya, ingin sekali aku berkenalan dengannya, tapi sorot matanya itu terkadang membuatku gugup dan sedikit takut bila berada didekatnya.
Bila aku akrab dengannya pasti aku sudah lama bertanya tentang seluk – beluknya, terutama sesuatu dibalik sorot matanya itu.
Tak terasa sudah hampir setengah jam, sepertinya jam istirahat akan tiba, aku langsung mengumpulkan sampah sebanyak mungkin dan membuangnya kedalam tong sampah besar yang berada beberapa meter dibelakangku.
Aku mencoba memberanikan diri menghampirinya.
“Hey, pak…huh…cerah banget ya hari ini…” ujarku mencoba berbasa – basi karena hanya dia yang aku kenal wajahnya disekitar taman.
“Ya….sepertinya tidak ada yang lebih indah dari hari ini…” responnya sambil berdiri dan mengusap keringat didahinya dengan lengannya.
Ia menatapku ramah, akupun begitu.
“Oh iya, perkenalkan….saya Gunadi….panggil saja mas Gugun” ujarnya sambil mengajakku bersalaman
“Saya…Ade….” responku sambil bersalaman dengannya.
Alarm pertanda waktu istirahat mulai terdengar.
Aku langsung berjalan bersamanya dan duduk ditepi lantai teras taman, begitu juga dengan yang lainnya.
Aku lihat dia menunduk sambil terduduk disebelahku, matanya mulai terlihat lemas, tapi aku seakan tidak pernah bosan menatapnya.
“Kalo boleh saya tahu, apa yang menyebabkan bapak ada disini?” tanyaku perlahan.
Dia masih saja menunduk.
“Aku difitnah…..”
“Maksudnya?” tanyaku kembali.
“Aku difitnah oleh seseorang….dia membajak karyaku……dan setelah itu…ia menuduh aku sebagai penjiplak…..” ujarnya sambil menatap kedepan dan menarik nafas karena cukup lelah.
“Karyanya…karya apa?” tanyaku sangat serius.
“Karya tulis….”
Aku menganggukkan kepala berulang kali, pantas saja selama ini aku lihat ia selalu menulis didalam selnya.
“Jadii, bapak ini,oh maksud saya mas Gugun ini penulis?”
“Ya….” jawabnya sambil menengok kearahku serius.
“Ooooh”
“Kenapa?, apa kamu juga suka menulis?, seperti cerpen atau novel barangkali?”
“Mmm….yaaaa, suka juga sih, tapiii”
“Mungkin tidak sebagus tulisannya, mas..lagian saya kadang – kadang nulis cuma untuk sekedar iseng – iseng aja kok”
“Awalnya juga aku seperti itu…tapiii…..” ujarnya kemudian terhenti.
Aku menatap matanya kembali, sepertinya ada sesuatu yang sangat berat untuk ia katakan hingga akhirnya ucapannya terhenti seperti itu.
Matanya serius menatap kedepan dan gemeretak suara giginya tak sengaja kudengar, terus terang aku seperti sudah sangat mengerti akan perasaannya.
“Begitu istriku pergi entah kemana….dan kedua anakku meninggal……..huh…..kecintaanku untuk menulis semakin menjadi – jadi…..”
“Aku nggak perduli lagi apakah novel yang aku buat layak diterbitkan apa nggak….karena hanya itu yang bisa aku lakukan sampai saat ini…..aku juga nggak perduli seberapa banyak penulis – penulis lainnya diluar sana yang kualitas karyanya jauh diatas karyaku…..aku juga nggak perduli apakah nanti disaat ajal menjemputku, tulisan yang aku buat selama di LP ini akan tetap menjadi sebuah tulisan tangan tanpa arti apapun….aku nggak perduli De…….” ujarnya mengeluarkan seluruh unek – uneknya sambil menatapku dengan tatapan yang tajam tapi sedih.
“Suatu saat, salah satu novel yang kubuat berhasil diterbitkan…..tapi beberapa bulan kemudian, seseorang yang sangat kukenal sebelumnya……malah menusukku dari belakang……”
“Huh…” ia menarik nafas dalam – dalam setelah mengatakan itu semua.
Aku menepuk pundaknya beberapa kali.
Aku juga cukup bicara panjang lebar mengenai diriku, dan ternyata ia sama sekali tidak memandangku sebelah mata, justru ia malah merangkulku seperti sudah lama saling kenal.
****
Semenjak itu, aku jadi semakin akrab dengannya, terkadang aku sering memberinya makanan, minuman, pokoknya apapun yang sekiranya bisa aku berikan untuknya, ya pasti aku berikan, sekalipun ia tidak pernah memberiku apa – apa kecuali tatapan matanya itu.
Matanya terkadang menyiratkan sesuatu yang amat dalam, tapi terkadang juga terlihat lucu, entah kenapa hanya matanya saja yang paling aku kagumi dari dirinya. Setiap sabtu hampir seluruh tahanan dijenguk oleh sanak familinya, termasuk aku….tapi satu hal yang paling aku enaskan saat dia tidak pernah berjalan menuju ruang jenguk, sepertinya dia ditakdirkan untuk menjadi orang yang selalu menulis disaat seluruh tahanan kelas 1 memenuhi ruang jenguk setiap hari sabtu.
Oh iya, aku baru ingat, bukankah istrinya telah pergi meninggalkannya….bukankah kedua anaknya telah meninggal dunia….tapi walaupun begitu kenapa tidak ada seorangpun yang menjenguknya?, apa dia tidak punya sanak famili sama sekali?, sepertinya nggak mungkin.
Aku bisa merasakan perasaannya saat dia hanya tinggal sendirian disepanjang sel kelas 1 ini setiap seminggu sekali, mungkin batinnya merasa tertekan, tapi itu semua seakan ditahan oleh matanya.
Diminggu – minggu berikutnya, aku jadi sering berbincang dengannya saat kerja bakti berlangsung….ternyata dia cukup humoris juga, sesekali ia tertawa hingga gigi serinya yang amat putih terlihat. Bisa dibilang hanya dia saja yang aku kenal disel kelas 1 ini.
****
“Ssssst…De, Ade….”sapanya saat jam mulai menunjukkan pukul 11 malam dan seluruh lampu koridor dan ruang tahanan dimatikan.
Mas Gun memberikan karya tulisnya kepadaku, dia melempar buku catatannya dan akupun menangkapnya, begitu aku buka, tulisannya kurang jelas terlihat…aku mencoba menyalakan senter pemberian ibuku beberapa waktu lalu, dan tulisan tangannya pun terlihat jelas, tulisannya latin tapi begitu indah….seperti air yang keluar dari mata batin seseorang dan mengalir dari satu halaman kehalaman lainnya…emosi yang ia pendam didalam hatinya benar - benar aku rasakan, ia mencurahkan seluruh perasaannya kedalam sebuah cerita, aku melihatnya cukup serius, dan tanpa aku sadari ternyata ia masih berdiri sambil menatapku.
“Ade…..Ade…..” sapanya perlahan.
Aku menoleh kearahnya.
“Simpan baik – baik buku itu…..”
Aku menganggukkan kepala berulang kali dan iapun kembali tertidur.
Selang waktu 5 jam setelah aku meletakkan buku catatannya di meja dekat kasur, aku terjaga…kuraih senter dan kunyalakan tepat kearah jam dinding, sudah pukul 4 pagi….aku menoleh ke selnya mas Gun sesaat, sepertinya dia masih terlelap.
“Uhuk uhuk” suara batuk mas Gun mengejutkan aku.
“Uhuk uhuk uhuk uhuk”
Batuknya semakin keras, aku jadi kasihan sama dia, sudah tidak ada seorangpun yang menjenguknya, kini dia sakitpun sepertinya tidak ada yang perduli, aku terbangun dan menyalakan senterku kearah selnya….rupanya sinar senterku cukup menyilaukannya, aku melihat dia terbaring sambil terus terbatuk, dia menutup wajah dengan tangannya karena kesilauan.
“Deeee….kamu ngapain nyalahin senter kearahku? Uhuk uhuk”
“Oh nggak kok mas…mas sakit ya?, a aku ada obat batuk disini, mas mau?” seruku sangat cemas.
Rupanya sinar senterku mampu menarik perhatian salah satu penjaga sel.
“Heeey, siapa itu yang nyalahin senter?!!” responnya dari ujung sel sebelah kanan.
Langkahnya terdengar semakin jelas kearahku, sengaja tidak aku mematikan senterku karena ingin bicara dengannya.
“Hey, kenapa kamu belom tidur?!!” tanyanya sedikit menggertak.
“Ee, tetangga saya sakit pak…dari tadi dia batuk terus, jadiii saya keberisikan” sengaja aku bicara seperti itu agar ia mengerti.
“Uhuk uhuk uhuk” batuknya semakin keras.
“Tuh kan, bapak denger sendiri kan?”
“Matikan sentermu itu!” perintahnya dan akupun menurutinya.
Penjaga itu langsung berjalan keruangannya untuk menyalakan lampu ruangan mas Gun, kemudian menghampirinya dengan seorang temannya.
Suara kedua penjaga itu terdengar samar ditelingaku, aku hanya bisa melihat kedua penjaga itu memeriksa kondisi fisik mas Gun sambil menggenggam jeruji besi erat – erat, aku melihat wajah mas Gun yang penuh keringat dan pucat, matanya lemah….seakan pasrah menerima kenyataan hidup yang dialaminya.
Ia menoleh kearahku saat kedua penjaga itu memeriksa tekanan darahnya. Nafasnya sedikit terengah – engah….apa jangan – jangan dia punya penyakit?…aku sendiri juga nggak tahu.
Ia terus menatapku, sekalipun kondisinya lemah….sorot matanya seakan mengucapkan banyak terima kasih kepadaku.
Suara kedua penjaga itu kembali terdengar, kali ini agak jelas.
“Tekanan darahnya naik lagi”
“Mendingan kita bawa dia kerumah sakit”
“Kapan?”
“Ya sekaranglah kapan lagi, gua nggak mau si produser itu nuntut kita kalo terjadi apa – apa sama dia”
“Ok ok, yuk kita rangkul dia”
Kedua penjaga itu merangkul mas Gun berjalan keluar dari selnya, dan terus berjalan menuju pintu sel kelas 1, aku jadi bertanya – tanya, sebenarnya apa sich maksud penjaga itu menyebut nama “ produser”. Aku jadi ingin tahu lebih banyak tentang mas Gun.
****
Hari ini aku rasanya aku kurang selera makan….selnya mas Gun masih saja kosong, setiap hari begini terus, aku harus cari kegiatan, tapi….kegiatan apa ya?….oh iya, kenapa nggak aku baca aja bukunya mas Gun. Segera aku meraih bukunya dan langsung membuka halaman pertama.
Tulisannya sangat membingungkan. Aku sama sekali nggak ngerti apa maksudnya….banyak istilah, halaman pertamanya saja sudah cukup memusingkan kepala…ceritanya aneh, tapii…daripada iseng nggak karuan, mendingan aku baca aja deh.
Dihalaman kedua. Ia mulai menggiring imajinasiku kealam fiksi…tulisannya mulai menarik perhatianku, dan terus ia memperkenalkan aku dengan beberapa karakter yang ada dibuku ini…masing – masing karakter memiliki ciri khas yang berbeda – beda, mulai dari A sampai Z ia jelaskan secara detail.
Selanjutnya masuk kehalaman berikutnya, yaitu halaman ketiga….dimana ia menjelaskan tentang setting, latar belakang, dan ringkasan ceritanya. Aku mengerutkan dahiku begitu sampai dihalaman itu, sepertinya ceritanya berat juga….sampai – sampai data referensi ilmiah ia kumpulkan sampai halaman ke sembilan. Ada beberapa istilah yang ia garis bawahi.
Dari mana ia mengumpulkan data sebanyak ini?, perasaan diselnya sendiri tidak ada satupun aku lihat buku pelajaran, artikel atau apalah yang berkaitan dengan data ilmiah yang ia sertakan ini.
Bahkan bisa dikatakan hanya buku yang aku baca inilah satu – satunya buku ia punya. Jangan – jangan dia bukan penulis sembarangan, buktinya semalam penjaga sel itu menyebut – nyebut nama produser.
Bla..bla..bla begitu sampai halaman sepuluh…dia menulis kedua nama anaknya yang sudah meninggal…namanya Rini dan Rina, begitu juga nama istrinya yang pergi meninggalkannya.
Begitu masuk kehalaman berikutnya, aku jadi heran, kok belum ada judulnya?….padahal buku ini sudah penuh dengan tulisannya, ah mungkin dia lupa, atau mungkin juga dia sengaja nggak memberi judul, yah namanya juga seniman…kadang – kadang maunya yang aneh – aneh.
Aku mulai serius membacanya…lembar demi lembar tak terasa sudah kulalui dengan tatapan yang serius…berat juga ceritanya…ada beberapa paragraph yang sengaja aku lewati karena bahasanya terlalu ilmiah.
Tak terasa sudah hampir satu jam aku membaca, itupun masih belum selesai, karena ada beberapa bab yang sengaja aku baca ulang mengingat tulisannya agak sulit dimengerti.
Suara pintu masuk sel kelas 1 terdengar dari ujung sana…dan langkah orang banyak mulai terdengar….aku acuh tak acuh dan terus membaca, suara itu semakin dekat, dan begitu aku menengok ternyata salah satunya ialah mas Gun. Dia dikawal banyak penjaga sel, ada tiga orang yang mengawalnya, dan dua orang berpakaian jas hitam mengikutinya dari belakang.
Reflex aku langsung menutup buku yang aku baca, dan melihatnya. Mas Gun berdiri dengan posisi tangan kebelakang, sementara seorang penjaga sel membuka pintu selnya yang masih terkunci. Pintu selnya terbuka dan mas Gun bersama dua orang berpakaian jas itu masuk kedalamnya. Sementara ketiga orang penjaga sel yang semula mengawalnya pergi meninggalkan mereka.
Aku lihat pintu selnya mas Gun belum terkunci, mungkin dua orang itu penyebabnya….aku masih memegang bukunya mas Gun erat – erat dan memalingkan pandangan seolah bersikap acuh seperti tahanan lainnya.
Aku mencoba memfokuskan pendengaranku kearah mereka.
“Mana cerita yang kamu buat selama ini?….”
“…….” mas Gun diam tidak menjawab.
“Apa kamu lupa dengan perjanjian kita tempo hari? Hah”
“Ya aku ingat…tapii, kayaknya aku nggak bisa”
“Nggak bisa apanya?”
“Kamu mau selamanya disini?”
“Akuu…nggak bisa bikin cerita lagi”
“Bohong!!” getak salah satunya.
“Pokoknya aku nggak bisa….”
“Bohong pak, orang biasanya juga sering nulis kok” cetus tahanan disebelahnya.
Spontan aku terkejut, aku langsung menatapnya dengan penuh kebencian, untung bukunya sudah sama aku.
“Kalo nggak percaya tanya aja sama dia” cetusnya lagi sambil menunjukkan aku.
“Eh bangsat!! ngapain lu ikut campur urusan orang!!” gertakku kearahnya.
Suasana sel kelas satu agak sedikit tegang, sesaat aku menatap mas Gun, matanya seolah memerintahkan aku untuk tetap menyimpan bukunya baik – baik, aku mulai mengerti maksud kedatangan kedua orang itu.
Kedua orang itupun menatapku.
“Benar dia sering menulis?” tanyanya salah satunya kearahku.
“Mana gua taaau, emang gua pikirin” responku spontan.
Aku jadi kesal sama tahanan gendut itu, sesekali ingin aku memberi dia pelajaran…dasar mulut ember.
Aku langsung tiduran dengan yang masih kesal. Andaikan aku disuruh tinggal satu sel dengan dia, pasti udah aku hajar mulutnya yang besar itu.
“Aku beri kamu waktu dua bulan lagi untuk membuat cerita itu….jika kamu masih seperti ini…kamu akan menerima konsekwensinya,” ujarnya dengan nada mengancam.
Aku menengok kearah mereka sambil tiduran. Aku lihat tatapan mata mas Gun yang tajam kearah mereka, aku yakin mas Gun nggak akan menuruti ucapannya.
Mas Gun tersenyum sinis menatap keduanya.
“Percuma…..aku lebih suka menulis dengan hatiku sendiri daripada menuruti perintah kalian”
“Ok….kalo itu maumu…..ayo kita pergi”
Kedua orang itupun segera bergegas meninggalkan mas Gun.
“Sebaiknya kamu pikir baik – baik sebelum menyesal….aku bisa mengeluarkan kamu dari sini jika kamu bersedia membuat cerita yang lebih bagus lagi…..”
“Carilah penulis lain”
Kedua orang itu keluar dari selnya mas Gun, dan seorang penjaga sel datang untuk mengunci pintu selnya kembali.
****
Malam harinya aku kembali membaca bukunya mas Gun, sesekali aku menengok kearahnya…kali ia tidak menulis, ia duduk di kursinya sambil menatap sebuah foto yang digenggamnya….aku yakin dia pasti sedang dalam masalah besar, tapii yang jadi masalahnya, dia orangnya tertutup…sudah berkali – kali aku menanyakan masalah apa yang menimpanya tapi ia lebih memilih diam seribu bahasa. Bahkan terakhir aku sengaja mengajak dia makan dikantin, tapi masih saja ia menutup – nutupi masalahnya.
Sudah pukul 8 malam, malam ini adalah malam yang panjang…biasanya cepat sekali lampu sel dimatikan. Aku lihat mas Gun masih saja menatap foto itu, aku merasa berat membaca bukunya, sulit dipahami.
Beberapa saat kemudian sebuah bola kertas masuk keruanganku, jelas aku tersentak.
“Ade…itu dari aku” seru mas Gun kearahku sambil berdiri memegang erat jeruji besinya.
Aku menatapnya serius, bahkan sampai beberapa saat, kapan ia menulis lagi?. Aku langsung meraih bola kertas itu dan melebarkannya.
Tanpa aku baca akupun langsung menatapnya serius. Ada apa ini?.
“Baca tulisan itu….Ade…terima kasih”
Mas Gun menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan kesedihan…aku jadi terharu melihatnya. Segera aku baca tulisannya.
Ade….jangan mudah percaya sama orang….Ade….sebenarnya orang yang tadi datang keselku adalah yang orang paling pantas berada disini…..Ade…jagalah buku itu seperti halnya kamu menjaga dirimu sendiri…..
Suara pintu selnya yang terbuka seakan mencegahku sesaat untuk membaca satu kalimat lagi. Seorang penjaga sipir masuk kedalam ruangan mas Gun dan memborgolnya….aku terpana melihatnya…ini seperti mimpi buruk yang terjadi begitu saja, aku hanya bisa menatap matanya mas Gun bukan wajahnya melainkan matanya….diapun terus menatapku sambil berjalan keluar sel bersama penjaga sipir itu….aku terus menatapnya hingga kertas yang semula aku pegang terlepas dan jatuh kelantai….suaraku seolah tidak bisa keluar untuk meneriaki namanya…aku memegang jeruji besi selku erat – erat, hingga akhirnya diapun semakin menjauh dari pandanganku…..aku kembali meraih kertas itu dan membacanya.
Selamat tinggal, teman.
Hanya satu kata yang paling aku ingat dari sekian banyaknya narapidana di LP ini….dan kata itulah yang membuatku akhirnya terlena dimabuk cinta dengan buku ini….dan akupun memberi judul buku ini dengan kata itu….…Mata
The End
No related posts.










