Mengembalikan Citra diri Manusia
Mengembalikan Citra diri Manusia
Sejak awal manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Yang mana di dalam diri manusia sudah tersimpan sisi keagungan dan kebaikan demi keluhuranNya. Artinya manusia selama hidupnya diharapkan mewartakan keluhuran Allah di tengah-tengah manusia yang lain. Selain itu manusia diharapkan untuk memperbaharui dunia dengan mengelola seluruh ciptaanNya. Sehingga nantinya dapat dipergunakan untuk mensejarterakan manusia itu sendiri. Semua itu bisa dilakukan karena manusia memunyai pikiran, perasaan dan kehendak bebas untuk mewujudkannya. Sungguh begitu mulianya ciptaan Allah yang bernama manusia, karena di dalam diri manusia diberi tanggung jawab untuk mewakiliNya berkarya ditengah dunia. Dengan begitu segala tindakan manusia seharusnya mencerminkan apa yang dikehendaki oleh Allah. Apa yang sebenarnya dikehendaki Allah di tengah dunia ini? Jawaban dari pertanyaan ini, saya merefleksikan bahwa Allah menghendaki segala ciptaanNya hidup dalam damai dan menyadari akan citra diri sebagai manusia.
Namun akhir-akhir ini, manusia merusak citra diri dengan melakukan perbuatan yang jauh dari nilai kemanusiaan. Gambaran citra manusia mulai kabur dan hancur tidak berbentuk. Manusia tidak lagi menampakkan sisi kemanusiaannya yang membawa sisi kemuliaan dari Allah. Mengapa manusia mulai meninggalkan citra dirinya? Sejak kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, manusia mulai jauh dari Allah. Manusia mulai meninggalkan Allah dan tidak lagi memahami kehendakNya. Dosa membuat manusia keras hati, bernafsu untuk menguasai, egois dan destruktif. Dosa membuat manusia tidak lagi menghargai perbedaan dengan manusia yang lain. Sehingga munculah banyak peristiwa memilukan yang mengatasnamakan agama. Bertindak seolah-olah agama menjadi menjadi pembenaran segala perilaku yang kurang manusiawi. Ditambah lagi dosa membuat manusia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya yang mulia di dunia. Semua ini, karena manusia menafsirkan kehendak bebasnya seakan-akan telah berbuat atas nama Allah.
Untuk itu sejak awal proses penciptaan, manusia sudah diberi akal, perasaan dan pikiran yang bisa memahami tanda-tanda zaman. Dengan akal dan pikiran tersebut manusia bisa merefleksikan kembali, untuk apa manusia dilahirkan di dunia ini? Apa yang menjadi misi hidupku? Suatu contoh yang cukup baik, saat ini bagaimana saudara-saudara kita yang muslim sedang merelefksikan kembali dan menumbuhkan citra kemanusiaan melalui puasa. Dengan berpuasa manusia kembali menemukan fitrahnya, yang artinya manusia kembali lahir baru. Manusia kembali murnidan suci, seperti waktu dilahirkan. Secara rohani fitrah menjadi cerminan akan kembalinya citra manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia mulai mengumpulkan kembali serpihan pecahan dari kehancuran karena dosa. Sehingga manusia kembali melihat gambar diri yang utuh dan memberi cerminan akan keluhuranNya. Barangkali Allah berkehendak agar manusia sungguh-sungguh menjalankan kehidupannya tanpa melihat latar belakang perbedaan, namun karena Allah adalah yang suci maka manusia pun menampilkan kesuciannya melalui amal perbuatan, demi terciptanya keselarasan hidup. Selamat berpuasa…










