Natalku Kembali Tak Datang
Natalku Kembali Tak Datang
Oleh
Pipin Rianda
Tiga hari menjelang Hari Natal, dengan perasaan gembira aku langkahkan kaki menuju pusat perbelanjaan. Bersama Clara, sahabat karibku. Aku mencoba kembali mengingat-ingat, apa saja yang akan kubeli. Suasana ramai sudah tampak dari luar, aku pun melangkah dengan perlahan dan sesekali menghindar dari keramaian orang. Tampa terasa, Clara yang bertubuh kecil terlepas dari genggamanku dan berada di tengah keramaian orang. Sambil berusaha menariknya , kugenggam tangannya lebih keras.
Sambil menahan rasa sakit, Clara berusaha melepaskan gengamanku. “ Sakit, tau ! “ .
“ Ups, Sorry ! Di sini ramai oleh orang-orang yang berbelanja, jangan bengong saat berjalan. “ Sahutku sambil tersenyum.
Dengan sedikit menahan dorongan dari belakang, Clara pun dapat keluar dari keramaian orang. “ Kamu jangan cepat-cepat jalannya. “ .
Sambil mengusap rambut Clara, aku mencoba menjelaskan padanya. Kalau berjalan di pusat perbelanjaan harus berhati-hati dan menghindari keramaian orang. “ Di tempat seperti ini banyak pencopet yang bergentayangan. Kalau bisa hindari kerumunan orang, kalau tidak ingin kehilangan dompet, oceh “ .
Akhirnya, setelah menaiki tangga jalan ke lantai atas pusat perbelanjaan. Sebuah toko bertuliskan ‘ Pada- Mu ‘ , sudah terlihat di ujung lorong. Seperti toko lainnya, toko ‘ Pada-Mu ‘ pun tak kalah ramainya. Bermacam-macam keperluan Natal hingga perlengkapan ke Gereja, semuanya lengkap dan disajikan dengan menarik. Clara yang baru pertama kali berbelanja di Toko tersebut, tak henti-hentinya terkesima hingga bingung akan berbelanja apa. Aku yang melihat Clara hanya tersenyum dan mencoba membuyarkan lamunannya.
Sebuah bunyi dering dari sebuah ponsel mengangetkanku yang sedang sibuk mencari keperluan Natal nanti. Aku pun mengacuhkannya dan tidak mempedulikan dari mana arah bunyi tersebut. Sebuah getaran dari dalam tasku, barulah tersadar bahwa ponselku lah yang berbunyi. Sebuah nama ‘ Danu, Missed call 002 ‘, tertera dalam layar ponsel. Dengan perasaan gembira, aku pun segera membalas dengan menghubunginya.
Sebuah suara tegas, sudah berada di ujung telepon. “ Hai, Anita. Tadi aku menghubungimu, namun tak dijawab. “
“ Aku sedang bersama Clara, membeli keperluan Natal. “ Sahutku berusaha menjelaskan.
“ Hari Natal sebentar lagi, ya. Natal kali ini ingin aku merayakannya bersamamu. “ Jawab Danu.
Perasaan gembira semakin meluap dan ingin segera diutarakan. “ Jadi kamu pulang, Natal tahun ini. “ .
“ Sepertinya sich, bisa. Tugasku pun sudah selesai “ Jawab Danu dengan perasaan gembira.
“ Aku tunggu, yach. Jangan sampai tidak datang dan bawa kado untukku “ .
“ Selalu, Anita. Kado dari Sang Sinterklas untuk kekasihku yang imut-imut tak akan pernah terlupakan. “ Rayu Danu di ujung telepon.
Sebuah kata salam untuk Clara dari Danu mengakhiri pembicaraan di telepon. Aku pun kembali mencari keperluan Natal. Clara yang melihatku senyum-senyum kecil setelah menerima telepon, hanya menggelengkan kepala. Akhirnya, sebuah Bola Lampu, Kertas Hias, Bintang Kecil, Kandang Domba, Domba dan Pawangnya serta sepasang Malaikat menjadi pilihan akhir dalam berbelanja.
Sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya, aku membayangkan kehadiran Danu dalam perayaan Natal nanti. Clara yang melihatku terdiam, berusaha membangungkan dengan menepuk pundak. Aku pun hanya tersenyum, melihat Clara menatapku dengan perasaan aneh.
“ Aku tidak apa-apa, kok ! “ Jelasku pada Clara.
“ Danu dan Danu, saja yang kamu pikirkan setiap saat. Memangnya dia akan datang pada Natal tahun ini. “ Tanya Clara.
Sambil menganggukan kepala, aku mencoba menyakinkan pada Clara. “ Dia akan pulang tahun ini. “ .
Sampai di rumah, suasana tak kalah ramai. Kesibukan sudah nampak dari depan rumah hingga ke dalam ruang tamu. Ayah yang melihatku datang dari berbelanja, segera menyambut dengan meminta barang yang kubawa. Sebuah Pohon Natal sudah tampak menghiasi sudut ruangan tamu. Aku pun menuju ruang dapur, kesibukan pun tak kalah ramainya dengan di depan. Beraneka masakan serta kue sudah berada di meja makan. Clara tabf terlihat lapar, mencobanya dengan memotong satu bagian kue. Aku yang kebagian tugas membungkus kado, mengajak Clara untuk membantuku. Beraneka macam mainan dan boneka tersusun rapih dalam kamar. Clara yang memang ahli dalam membungkus kado, dapat menyelesaikannya dengan cepat.
“ Jangan cepat-cepat bungkusnya, nanti ada yang tertinggal “ ucapku melihat Clara membungkus.
Sambil mengangguk, Clara pun berusaha kembali memeriksa kado yang dibungkusnya. “ Tenang saja semuanya sudah kumasukan sesuai dengan perintahmu “ .
“ Oh iya Clara, besok tolong ingatkan aku. Ke Sekolah membawa kado ada perayaan kecil menyambut Natal “ Pintaku pada Clara.
“ Tenang saja, aku sudah buat memo di ponsel agar tidak lupa “ Jelas Clara.
Semua persiapan pun sudah selasai. Tampak muka lelah dari masing-masing anggota keluarga. Waktu yang menunjukan Pukul Tujuh Malam, Clara pun memutuskan untuk pulang. Paginya, sebuah pesan singkat membangunkanku. Sebuah ucapan ‘ Selamat Pagi, Anita ‘ dengan pengirim dari Danu. Aku pun membalasnya dengan perkataan yang sama. Tak lama berselang, Clara sudah menjemputku. Dengan membawa kado dan tak lupa memeriksa tas, kami pun berangkat.
Sesampai di sekolah, suasana perayaan Natal sudah terasa. Beraneka macam tulisan bertemakan Hari Natal dan pernak-pernik lampu menghiasi sudut-sudut sekolah dan ruang kelas. Dengan penuh hikmah, aku pun mengikuti perayaan yang berada di ruang kelas. Pak Cristopus yang merupakan Guru Agama dan Pendeta di lingkungan rumahnya, memberikan pencermahan dengan penuh keyakinan. Setelah satu-persatu acara berlangsung tiba saatnya acara yang ditunggu-tunggu, acara tukar kado. Sambil berpelukan kami pun saling memberikan kado dengan siswa atau pun guru. Sebuah bunyi dering ponsel memisahkanku dengan yang lainnya.
“ Siang, Anita. Kamu sedang ada dimana ? “ Tanya Danu di ujung telepon.
Aku pun menceritakan persiapan Natal di rumah dan perayaan yang sedang aku ikuti di sekolah. “ Natalku Tahun ini serasa akan lengkap “ .
“ Wah, kamu pasti merasa bahagia sekali “
“ Belum, Danu. Kehadiranmu di Hari Natal nanti, menjadi kebahagian yang lengkap dalam hatiku “
“ Aku akan usahakan datang. Aku sudah berbicara dengan Ibu Asrama, sepertinya dia akan mengijinkanku untuk pulang “ Jelas Danu.
“ Kamu benar-benar akan datang, kan ! Sudah dua kali aku merayakan Hari Natal seorang diri. Natal Tahun ini aku tidak ingin seperti dulu. Aku ingin kamu ada bersamaku “ .
“ Iya, Anita. Aku juga tidak ingin seperti ini, rasa hati ini sudah menggebu ingin bertemu denganmu. Aku pasti datang dan kita merayakan Hari Natal Bersama “ Jelas Danu berusaha menyakinkan.
Suara Clara memanggil Anita menghentikan pembicaraannya dengan Danu. “ Kamu kemana saja, aku mencarimu ? “
Dengan isyarat agar menunggu sebentar, aku pun kembali melajutkan pembicaraan yang terhenti. “ Clara memanggilku “ .
“ Oh, Clara. Dia ikut juga merayakan Hari Natal bersama di sekolah ? “ Tanya Danu.
“ Iya, aku sudah berjanji padanya. Natal Tahun ini akan merayakan bersamanya dan juga denganmu. “ .
Setelah merasa yakin bahwa Danu akan datang pada saat Hari Natal tiba, aku pun mengakhiri pembicaraan. Tepat pukul Dua Siang, acara pun selesai. Setelah mendengarkan penjelasan dari Kepala Sekolah kami pun di perbolehkan untuk pulang. Di tengah perjalanan pulang, Clara memintaku untuk menemani berbelanja baju untuk kegiatan Tuguran pada malam menjelang Natal. Beraneka ragam baju berada di Counter-Counter pusat perbelajaan. Dengan sedikit selektif, Clara memilih dan mencobanya. Aku yang bingung melihat Clara membeli baju, mencoba membantu dengan memilih sesuai dengan ukuran dan keinginannya. Sudah tiga Counter baju didatangi, namun baju yang sesuia dengan keinginan Clara belum juga didapatkan.
Sambil memilih baju yang hendak dibeli, aku berusaha menyakinkan pada Clara. “ Kamu ingin baju yang seperti apa, sich ? “ .
“ Aku bingung, Anita. Semuanya bagus-bagus dan terlihat cocok bila digunakan pada saat kegiatan Tuquran berlangsung “ Sahut Clara dengan bingung.
“ Waduh, kalau seperti ini, kita akan seharian berada di sini. “ .
“ Sebentar lagi, Anita. Sepertinya aku sudah memutuskan baju apa yang kukenakan nanti “ .
Sambil melihat baju yang dipilih oleh Clara, aku pun mencoba mencocokan kembali dengan tubuhnya. “ Sepertinya, pas, denganmu. Tidak terlalu besar ataupu kekecilan, lagi pula warnanya tidak terlalu mencolok. “ .
Setelah membayarnya, aku pun segera memutuskan untuk pulang. Sesampai di persimpangan Clara berpisah denganku. Di rumah, kesibukan menyambut Hari Natal. Semakin terlihat. Beraneka baju dan Kitab sudah tersusun di dalam kamar tidur, dan tak lupa alat rias pun sudah berada di meja rias. Aku pun mencoba salah satu baju yang tergeletak dan berusaha mencocokan dengan postur tubuhku yang tinggi.
Ibu yang melihatku, menghampiri dan berusaha membantuku. “ Kamu terlihat cocok menggunakan baju itu “ .
“ Ah, Ibu. Selalu saja meledekku “ Sahutku sambil tersenyum kecil.
“ Ibu tidak meledek, kamu terlihat cantik dengan menggunakan baju itu. Oh iya, Danu pulang Tahun ini ? “ .
“ Dia pulang, Bu. Tadi, aku sudah menghubunginya. Katanya dia sudah berbicara dengan Ibu Asrama dan meminta ijin untuk libur “ Jelasku dengan perasaan gembira.
“ Wah… Lengkap dong, Natal Tahun ini “ Ledek ibu sambil berlalu meninggalkanku seorang diri di dalam kamar.
Baju yang tergeletak dimana-mana, aku pun segera merapihkannya kembali. Dari tampak luar, ayah yang melihatku pun hanya tersenyum. Akhirnya, malam perayaan Natal yang ditunggu pun tiba. Sambil bersiap aku kembali mencoba menghubungi Danu, namun selalu saja tak ada jawaban darinya. Dengan menggunkan Sedang Silver, kami pun berangkat ke Gereja terdekat. Suasana ramai terlihat di luar Gereja. Setelah memakirkan kendaraan, kami pun memasuki dalam Gereja. Clara yang melihatku mencoba menghentikan langkahku.
“ Bagaimana bajuku, bagus kan ? “ Tanya Clara dengan berputar memperlihatkan bajunya.
Aku pun hanya geleng-geleng kepala melihatnya. “ Iya, Kamu cocok dengan baju itu “ .
“ Kamu Kenapa, Anita. Gelisah sekali ? “ .
“ Aku sudah menghubungi beberapa kali dari pagi hingga sekarang, namun tetap saja Danu tidak menjawabnya. Membalasnya saja pun tidak “ Ucapku.
“ Kamu sudah menguhubungi Nomor Rumahnya, mungkin dia ingin membuat kejutan padamu ? “ .
Aku pun mencoba mengingat kembali Natal tahun lalu dan menjelaskan pada Clara. “ Tahun lalu juga seperti ini. Ketika hari menjelang Natal, Danu susah sekali dihubungi. Kalau pun bisa, itu pada esok harinya “ .
“ Sudahlah Anita, nanti juga dia datang. Kamu tidak usah gelisah “ sahut Clara berusaha menenangkan hatiku.
Acara pun dimulai, aku yang terakhir masuk ke Gereja mendapatkan tempat paling belakang. Kegiatan Tuguran atau melek semalaman hingga pagi tiba, dimulai. Pastur Corolus pun melakukan penceramahan dengan hikmah dan tak lupa sesekali memberikan contoh mengenai prilaku kehidupan sehari-hari. Perasaanku yang tertuju pada Danu membuatku tidak khusu dalam menjalankan kegiatan Tuguran. Sesekali kulihat arah layar ponsel yang tergelatak di saku baju.
Waktu hampir menunjukan akhir acara, namun tetap saja layar ponselku tidak menyala. Aku coba menyakinkan dengan menekan tombol panggilan, tapi tetap saja panggilan dari Danu tidak ada. Aku coba alihkan pokuskan pikiran ke acara yang sedang diselenggarakan, tapi tetap saja pikiran ini selalu saja tertuju padanya. Clara yang melihatku gelisah hanya bisa berusaha menenangkanku dengan berdoa. Sampai akhir acara kabarnya pun tak kunjung datang, dengan perasaan putus asa aku membiarkan perasaan ini terus berkecamuk.
Sesampai di rumah kurebahkan tubuh di atas kasur. Kuingat kembali semua perkataanya waktu itu, namun tetap tak mendapat jawaban darinya. Baru saja mata ini hendak terlelap, ponselku berbunyi. Dengan perasaan kesal dan kecewa, aku pun mengacuhkannya. Hingga beberapa kali bunyi dan ibu merayuku agar mengangkatnya, barulah aku membuka daftar panggilan. Sebuah ‘ Danu, Missed Call 10 ‘ tertera dalam layar ponsel.
Kembali ponselku berbunyi, dengan perasaan kesal aku coba mengatakan sesuatu. “ Maaf, Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi “ .
“ Anita, aku tahu pasti kamu marah. Tapi dengarkan penjelasanku “ Sahut Danu sambil memohon.
Kembali aku mengucapkan kata yang sama. “ Maaf, Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi “ .
Dengan suara lirihnya danu pun kembali memohon diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya. “ Anita, aku tidak ingin mengkecewakanmu. Tapi, berilah aku kesempatan untuk menjelaskan “ .
“ Sudalah, Danu. Aku tahu kamu pasti tidak datang, jadi jangan pernah katakan padaku lagi “ Sahutku singkat.
“ Maafkan aku, Anita. Aku salah, tapi benar apa yang ingin aku katakan. Bahwa aku tidak bisa keluar Asrama. Tempat sekarang kutinggal sedang terjadi kerusuhan, hampir terjadi peledakan dimana-mana. “ Jelas Danu.
“ Sudahlah, aku tidak ingin berbicara denganmu lagi “ ucapku dengan mematikan ponselku.
Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipiku. Ibu yang melihatku dari luar kamar, datang dan berusaha menenangkanku. Sebuah pelukan hangat menghilangkan rasa sedihku. Sebuah panggilan kencang dari arah keluarga melepaskan pelukanku. Dengan gelisah ayah menayakan dimana Danu tinggal. Aku pun menjawabanya di Daerah Maluku. Dengan menghentikan agar diam sejenak, ayah memintaku agar melihat tanyangan yang sedang berlangsung di TV.
Dengan perasaan cemas, segera kuraih ponsel yang tergeletak di kamar tidur. “ Danu ! Kamu sekarang dimana ? .
“ Anita, aku ada posko pengungsian. Asrama tempatku tinggal hancur terbakar “ Jelas Danu dengan terbata.
“ Maafkan aku, Danu. Aku egosis. Tapi, kamu tidak apa-apa di sana “ .
“ Aku tidak apa-apa, di sini aman. Sekitar Satu Kompi Tentara menjaga Daerah Pengungsian. Natal Tahun ini kembali aku tidak bisa merayakannya bersamamu. Aku minta maaf, semoga kamu mau memaafkanku “ Jelas Danu berusaha menyakinkanku.
“ Yach sudahlah, Danu. Aku mengerti, tapi Natal Tahun Depan kamu harus pulang dan merayakannya bersamaku “ .
“ Iya, Anita Tahun Depan pasti aku pulang “ Ucap Danu.
Kata ucapan Selamat Natal mengakhiri pembicaraan. Dengan memeluk ibu, aku merasa bahagia bahwa di sini tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun terulang seperti tahun kemarin, merayakan Natal tampa dirinya. Namun aku syukuri bahwa dia di sana baik-baik saja.
Sambil mematikan TV dan berpegangan satu-persatu, ayah meminta kami memejamkan mata. “ Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita di sana “ .
“ Semoga Tahun Depan aku merayakan Natal bersamamu, Danu. “ Doaku dihari Natal.
*******











February 23rd, 2009 at 3:11 pm
waww…great short story!
Hmm..that’s reality or just your imagination? If that’s reality where was Danu stay at that time??
Hagkkss2…I’am sorry my English is very bad.