Penyesalan
Ini hanya cerita klasik yang banyak terjadi pada kebanyakan remaja, maupun dewasa.
Dulu aku pernah punya pacar sejak tahun pertama masuk kuliah. Dia sebut aja “Iman”, seorang yang supel, setiap sudut jalan yang dilewati selalu ada aja temannya yang menegur, selalu ada aja cerita segar yang membuat keningku berkerut dan tersenyum geli. Sangat berbeda denganku yang anak rumahan, hanya senang ke toko buku cari novel picisan, nonton film, dan ngerjain tugas kuliah. Perbedaan itulah yang membuat aku terpana memandangnya.
Walaupun sering disela pertengkaran dan putus sambung, hubungan kami terus berjalan sampai enam tahun. Aku kenal keluarganya, demikian juga sebaliknya. Yang membuat aku bertahan dengan hubungan kami adalah pengertiannya pada keinginanku yang selalu ingin bebas kemana aja tanpa harus selalu dikawal, kumpul-kumpul dengan teman lelaki pun gak masalah asal dia juga kenal dengan mereka, termasuk keinginanku untuk kerja sambilan sebagai honorer di konsultan survey pemasaran dengan jam kerja yang gak tentu, seperti sahabatku, Cici. Yang kemudian membuat skripsiku gak selesai-selesai.
Karena desakannya juga desakan orang tua, akupun berhenti kerja. Tapi, kemudian datang tawaran dari seorang kerabat yang mencari pegawai untuk pekerjaan sebagai administrasi gudang. Kupikir ini kesempatan bagus, aku gak perlu susah-susah mencari lowongan pekerjaan, gaji bulanan, dan waktu kerja yang pasti. Mungkin aku bisa menyelesaikan skripsi setelah jam kerja dan hari libur.
Rencana yang terdengar bagus dan sempurna, berbeda dengan kenyataan. Kenyataannya, waktuku habis untuk kerja dan mempelajari bahan skripsi. Iman yang mulai jarang kujumpai mulai menuntut lebih. Ketika aku berusaha meluangkan waktu lebih banyak bersama Iman, aku jadi sering pulang malam, setiap hari libur selalu keluar, dan akhirnya skripsi yang rencananya bisa kuselesaikan dalam beberapa bulan, belum juga selesai sampai setahun lebih. Orang tua juga mulai gusar dengan keadaanku yang gak juga selesai kuliah sementara adikku yang berbeda umur setahun dariku dan terlambat kuliah setahun, udah diwisuda. Bapak dan Mamak pun minta aku untuk berhenti kerja.
Aku ini orang yang keras kepala. Aku bertekad harus bisa menyelesaikan skripsi tanpa harus berhenti kerja. Karena waktu setahun rasanya masih belum cukup untuk kujadikan referensi kerja nantinya setelah tamat kuliah. Iman juga mendukung, dia berusaha membantu sebisanya untuk keperluan skripsiku. Mulai dari memesan gambar, mengantar aku menjumpai dosen di rumahnya, dan membantuku mengerjakan revisi isi skripsiku. Kami pun semakin sering pulang lebih malam. Hal ini membuat orang tuaku mulai gak percaya pada kami.
Akhirnya, aku menyerah. Dengan berat hati, aku berhenti kerja tepat setelah masa kerja satu setengah tahun. Bukannya bernafas lega, justru masalah lebih besar mulai menekanku. Orang tuaku mulai menunjukkan sikap tidak suka pada Iman, walaupun tidak secara langsung tapi membuat aku memaksa Iman untuk gak datang ke rumah sementara waktu.
Disaat aku berjuang untuk menyelesaikan skripsi dengan judul baru yang cukup memeras otak, mamak justru sibuk dengan keinginannya untuk menjodohkan aku dengan laki-laki lain yang menurutnya lebih tepat daripada Iman. Aku berusaha menolak secara halus dan tetap berkonsentrasi dengan skripsiku. Tapi mama bukan orang yang bisa sabar kalau keinginannya gak dianggap. Apalagi ada suara sumbang dari kenalannya yang pernah bertemu denganku. Katanya, pacarku si Iman itu bukan anak baik, kemungkinan besar dia akan menduakan aku, pemalas, dan hanya menginginkan uangku aja. Aku gak terlalu suka dengan orang yang suka menjelekkan orang lain terutama yang menyombongkan diri dengan anggapan memiliki indera keenam.
Dari beberapa perkataannya, memang ada yang mendekati benar. Dan aku terlalu keras kepala untuk menanggapi. “Dia bukan Tuhan”, demikian kata Iman sewaktu kuceritakan hal itu padanya. Perkataan Iman selalu sesuai dengan logikaku, jadi aku masih bertahan bersamanya. Terutama setelah banyak hal yang dilakukannya untukku, yang memang sering diungkitnya untuk mengingatkan aku.
Tidak ada manusia yang sempurna. Termasuk Iman. Walaupun dia sering minjam uang dariku, dia sering mudah berjanji tapi gak mudah menepatinya, aku masih menaruh harapan dia akan menepati janji yang selalu diucapkannya itu. Yaitu berusaha untuk tamat kuliah, dapat kerja bagus, kemudian menikah denganku.
Sayangnya, janjinya itu sekarang hanya tinggal janji. Setelah wisuda, aku berhenti menemuinya, gak pernah mau dihubungi, dan mendapatkan pekerjaan yang baru. Keputusan yang mantap kuambil setelah aku yakin bahwa dia bukan yang terbaik untukku. Bahwa dia gak akan pernah menepati janjinya. Bahwa dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahwa aku lebih menyayangi keluargaku terutama orang tua. Dan bahwa aku juga lebih menyayangi diriku sendiri. Keputusan disertai penyesalan yang pastinya selalu datang terlambat. Betapa sekian lama waktu terbuang sia-sia yang kuhabiskan untuk terus mempertahankan hubungan yang berat sebelah. Aku ingin, segala yang pernah kuberikan untuknya, mendapat perhatian dan balasan yang baik darinya. Gak cukup hanya dengan cinta dan janji.
Satu peristiwa yang telah membuat aku tersadar dari kebodohanku. Seperti ada yang menampar keras tepat ke ulu hati. Air mata pun tak bisa menetes, karena hatiku telah menjadi batu. Sampai sekarang, aku masih mengingatnya dengan jelas dan gak akan bisa kulupakan.
Waktu itu adalah hari ulang tahun Iman. Aku datang ke tempat kos teman yang ditumpanginya. Didepanku dia mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan untuk mentraktir makan teman-temannya. Diberikannya pada salah seorang temannya, “Nah, beli makan sana. Aku nanti aja sama adekku”, begitu katanya. “Baru dapat rejeki nomplok tadi malam, he…he…he…”, katanya padaku. “Nanti sore aja kita makan di luar. Mau makan apa?”
Kenyataannya, sepeserpun gak ada dikeluarkannya untuk aku. Gak ada untuk makan seperti yang dijanjikannya, juga gak ada untuk bayar uang yang pernah dipinjamnya. Saat itu aku gak mau menagih janjinya. Cukup untuk aku menyadari betapa harapanku hanya sia-sia. Sampai kapanpun, Iman adalah Iman. Buatnya, yang penting keselamatan diri sendiri dulu, baru mikirin orang lain. Termasuk aku.
*****
Cerita di atas hanya sepenggal cerita cinta nyata dari sepenggal orang-orang di muka bumi ini. Betapa zaman sekarang ini sulit sekali menemukan seorang “gentleman”. Betapa anak-anak sekarang kurang begitu dekat dengan orang tuanya sehingga lebih mempercayai pacar yang masih termasuk orang luar. Sehingga lebih mendengarkan kata-kata dan rayuan pulau kelapa pacarnya, daripada perkataan orang tua yang sangat tulus menyayangi, dan terutama kata hati. :???:











June 16th, 2011 at 6:47 am
Greatthing! I will monitorthe new entries in your site!
July 23rd, 2011 at 4:56 am
Carpet & Mold Removal…
[...]just below, are some totally unrelated sites to ours, however, they are definitely worth checking out[...]…