RANTING TAK BERDAUN, RANTING 5
Tidak susah mencari rumah Pak RT, karena didepan rumahnya terdapat papan bertuliskan
“KETUA RT: 24 RW: 08 DESA SUPIT URANG”
Dengan segera mereka melaporkan diri kepada pak RT, kemudian menjelaskan maksud dan tujuan mereka.
Alangkah senangnya hati mereka, karena pak RT telah berbaik hati memberikan tempat untuk beristirahat, namun Pak RT hanya mempunyai satu kamar, jadi terpaksa nanti malam cowok-cowok harus tidur diluar kamar, atau diruang keluarga tepatnya.
Hari masih siang, dan mereka permisi untuk melihat-lihat objek yang akan mereka teliti, mungkin Pak RT takut keempat remaja ini tersesat, maka Pak RT mengutus anaknya untuk memandu kami, Adi namanya, bocah ini tampaknya keberatan mengantar mereka berkeliling desa, namun wajah bapaknya itu membuatnya tak berdaya, tak ada pembelaan dari mulutnya, sungguh kasihan dia harus menemani keempat remaja itu, dan merelakan harinya untuk bermain, dan yang lebih parah lagi dia harus mendengar kata-kata Ronal yang dapat menyesatkan jiwa tak berdosa tersebut, namun tampaknya Vivi menangkap ekspresi wajah Adi, dan ekspresi wajah Vivi mungkin jika diartikan, artinya”jangan khawatir adik kecil, kamu akan bahagia bersama kakak”
Kelima anak manusia itu pergi meninggalkan rumah bapaknya Adi, mencoba mencari-cari objek penelitian, dan mereka telah menetapkan tema, setelah lama berdebat.
“TANAMAN HASIL BUDIDAYA MANUSIA, DAN TANAMAN HASIL BUDIDAYA ALAM”
Banyak sekali tanaman yang mereka temui, jadi mereka mengerucutkan tema menjadi
“ANGGREK LIAR, DAN ANGGREK BUDIDAYA”
“Adi antar kita cari anggrek ya….?” Pinta Vivi
Namun Adi tampaknya akan menggelengkan kepala, dan Vivi sebentar kemudian merogoh tas kecilnya mengeluarkan beberapa permen loli, dan permen kecil-kecil.
“ini untuk kamu”
Dipandanginya permen-permen itu, sebentar kemudian.
“seperti yang di Tipi..” dengan raut wajah sangat senang, dan tak ada lagi kerutan diwajah Adi .
Ronal, Syra, dan Alfian tertawa karena mendengar oceh anak itu, namun Vivi hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Adi.
Pencarian tidak memberikan hasil maksimal, hanya anggrek-anggrek tebing yang ada, jenis anggrek lain belum ditemukan, namun mereka cukup senang karena sekitar mereka yang begitu indahnya.
Mereka memutuskan untuk kembali, sesampai dirumah, pak RT sedang duduk santai diruang tamu, wajah Pak RT memang serem apalagi ditambah kumisnya yang lebat, mirip kumis Pak Raden.
Malam telah tiba, keempat remaja ditambah dengan Adi yang mulai mencintai kakak-kakak kota ini, duduk diteras depan.
“ Di.. apa ada tempat lain yang banyak anggreknya?” Tanya Alfian
“didaerah sini banyak kak, tapi kalu mau cari lebih jauh lebih banyak lagi”
“lebih jauh…maksudnya?” Tanya Syra
“ya… kehutan!”
Yang dimaksud Adi adalah hutan kecil yang terletak dibukit yang jaraknya lumayan jauh dari desa itu.
Tampaknya Pak RT mendengar pembicaraan mereka Pak RT pun keluar, dan duduk menemani mereka.
“hutan dan bukit itu adalah symbol desa kami!, tempat itu penuh dengan sejarah, jadi kalian harus hati-hati kalau kesana, tidak boleh menunjuk apapun, dan jika terjadi, maka ludahi jari kalian yang menunjuknya”
Pak RT mulai bercerita tentang desa itu
Desa ini nama sebenarnya bukanlah Supit Urang, namun nama asli desa ini telah terlupakan dan berganti nama dari desa Kalasan menjadi desa Supit Urang.
Dahulu kala, untuk membangun sebuah pemukiman haruslah membabat hutan. Suatu cerita rakyat menceritakan bahwa desa kalasan telah dibuka sebelum kakek Pak RT lahir.
Para pembabat hutan tidak menyadari kalau hutan yang mereka babat akhirnya nanti, akan tampak seperti pulau.
Sebelah timur, barat, selatan, serta utara desa, memiliki batas yang jelas, yaitu sungai, Pak RT juga bercerita bahwa, sungai yang berada dijalan masuk utama desa, atau yang berada dibawah gapura ketika pertama kali memasuki desa itu merupakan perpanjangan dari sungai yang membatasi desa sebelah utara, dan terus membatasi desa hingga kesebelah barat, sungai itu alirannya semakin besar karena bertambahnya air dari sumber-sumber yang berada didekat gapura.
Sungai satunya lagi yang belum sempat mereka lihat adalah sungai yang membatasi wilayah utara, hingga selatan, sungai itu lebih dalam, dari desa harus menuruni tebing sedalam empat puluh meter, namun disebelah selatan dari sungai itu, masih terdapat sawah, namun tidak ada pemukiman lagi disana. Sungai selatan ini nantinya akan bertemu dengan sungai utara yang menghasilkan sebuah pertemuan yang warga biasa menyebutnya dengan tempuran.
Karena posisi itulah, desa ini dijuluki desa Supit Urang, karena posisi itulah maka desa ini aman dari segala kajahilan manusia, baik itu pencuri, rampok atau yang lainnya, Alfian berpendapat, bahwa mungkin desa itu aman karena pencuri tidak akan bisa lari, karena hanya ada dua jalan utama, yaitu jalan sebelah timur, yang juga merupakan jembatan dengan sungai yang dalam, yang kedua adalah jalan utama, yaitu gapura selamat datang.
Dan karena keadaan itulah desa ini menjadi desa yang sangat sakral.
Hari semakin larut, Pak RT sudah tampak ngantuk dan menyudahi ceritanya.
Alfian dan kawan –kawannya pun sudah tampak sangat lelah, karena sedari datang tadi belum tampak mereka beristirahat, sementara Adi, sudah tertidur dipangkuan bapaknya.
Kedua gadis beristirahat didalam kamar, Alfian dan ronal menggelar karpet di ruang keluarga, mungkin karena sudah sangat lelah mereka tertidur sangat lelap, sebelum tidur, Alfian bolak, balik memperhatikan kalender diruang tamu, dan melihat tanggal yang tertera disana, dia tersenyum melihat sebuah angka disana, dan tersenyum sambil berangkat tidur.











June 9th, 2011 at 3:20 am
mas di kasih salam tuh sama si handoko udah lama ga ketemu katanya
June 24th, 2011 at 9:43 pm
Alan Sharer, of course! What the hell are you guys talking about! Alan Shearer#9 Captian Fantastic! Maybe the best striker in the world at any time!