Rembulan dibalik Akasia
Rindu menebarkan semerbak harum pada dedaunan yang rapuh. Sepoi malam tak mengugahnya untuk beranjak dari ayunan berkarat di tepian danau, bergegas terlelap selayaknya penikmat mimpi. Rindu dewiku,dalam keheningannya ia menuntaskan harapan, terputusnya sebuah ikatan hidup, terhentinya putaran nafas. Rindu meghela nafas pelan…menitikkan air mata. Menikmati aliran darah yang mendesak keluar dari sang ovarium, membasahi ujung – ujung gaun putihnya. Gemerisik ilalang menyembunyikan tangis yang tertahan, membiarkan Rindu mengigit bibir bawahnya untuk menahan perih. Rindu telah lelah sungguh,memejamkan mata dan mengalunkan kidung asmarandana. Ia mengerling kearahku,mencoba untuk terus membuatku mengerti akan semua keputusan yang telah diambilnya. Meredam semua emosiku,membuatku belajar menahan perih. Dan Rindu terus mengalunkan kidung itu,melayangkan pandangannya pada pohon Akasia . Dimana semuanya berawal..
………
Aku mengamatinya seperti biasa,sudah lewat tengah malam dan gadis bergaun putih itu terus menari dalam cahaya rembulan. Indah…meskipun tariannya terbentuk sesuka hati. Senyumnya merekah, rambutnya tergerai menjuntai hingga sebatas pinggang, tumitnya berdentum seirama dengan desir bayu.ah…gadis inilah yang membuatku tak lagi mengutuki insomnia sebagai kado special yang tertanam di jiwaku. Gadis itu berjinjit mendekatiku. Seketika membuat darahku berdesir. Ia cantik sungguh. Aku tak sanggup mengerjapkan mata dan kehilangan sedikit waktu untuk mengamati sang dewi.
“ Mari…menarilah bersamaku…” ajaknya. Aku menggeleng cepat, namun kalah cepat dengan sambutan jemarinya yang membuatku beranjak dari rerumputan tak jauh dari pohon akasia di tepi danau. Entah? Gadis itu benar – benar membuatku terpaku. Meskipun pada akhirnya ia tetap menari sendiri sambil bersenandung..aku merasa turut masuk ke dalam jiwanya yang tenang. Tiba – tiba ia menjatuhkan diri ke rerumputan, membiarkan gaunnya bersulam daun – daun kering dan bunga rumput. Aku bergegas menghampirinya.
“ Hei, apa yang terjadi? “ tanyaku khawatir. Ia tersenyum kearahku, mengerlingkan matanya dan menatap rembulan.
“ Stt…kau sering menatap rembulan kan?” ujarnya kemudian. Aku menghela nafas lega. Ternyata gadis ini baik – baik saja. Sungguh mengkhawatirkan.
“ Aku suka menatapnya berlama – lama, terutama bila hari cerah seperti ini…” gadis itu kembali berkata.
“ Dimana tempat tinggalmu? Orang tuamu tak mencarimu?” cecarku. Yah, mengingat betapa banyaknya kasus penculikan, penganiayaan dan pemerkosaan yang terjadi di negri ini, bukan tak mungkin ada pejahat atau seseorang yang tiba – tiba berniat jahat padanya di malam buta seperti ini. Terlebih, ia cantik dan menarik, pasti.
“ aku tahu, kau sering mengamatiku saat menari disini..kemudian terlelap hingga fajar..namaku Rindu” A – ha…sekarang siapa mengamati siapa. Aku terkesiap, bila Rindu – sang dewi malam – itu sempat melihatku terlelap kala fajar, maka pukul berapa ia beranjak dari danau?. Aku mengikutinya berbaring di rerumputan.
“ Rindu,senang pada akhirnya aku mengetahui nama si penari malam ini”
“ Aku…tinggal didekat sini,tak perlu khawatir. Mereka…tak pernah mencariku,mereka tahu aku pasti kemari dan kembali esoknya.”
“ kuliah? Kerja? “
“ Menari”
“ Menari?? Setiap hari? Disini maksudmu? Malam hari begini?”
“ Kau menyukai rembulan?”
“ Umh…kau belum menjawab pertanyaanku tadi..”
“ Sepertinya aku sudah terlebih dahulu menunggu jawabanmu”
“ ???”
“ Kau menyukaiku?”. Aku terhenyak. Memandang jauh ke dalam matanya yang sayu. Apa yang sedang dipikirkan gadis ini?
“ Karena aku mulai menyukaimu…” ujar Rindu lagi sambil tersenyum.
“ Karena…bila kau juga menyukaiku, aku mohon…, mohon dengan sangat,…..bawa aku pergi secepatnya dari sini. Kemanapun itu.” Lalu, rindu terisak. Semuanya membuatku bingung. Aku membiarkannya menumpahkan luka di pelupuh matanya. Rindu masih tetap tersenyum dibalik isaknya.dan setelan berbulan bulan tanpa tatap muka secara langsung apalagi berkenan melontarkan sebuah kata, malam itu Rindu menempati relung hatiku yang terdalam. Ia tak berkata apapun mengenai rasa sedihnya padaku. Ia hanya terus menerus menyayikan kidung jawa.
Aku mengernyitkan dahi setelah kemudian ia berkata.” Nama kidung ini, Asmarandana, karena…aku sedang jatuh cinta”.
…
Badai sialan! Aku tak kunjung habisnya merutuki cuaca malam ini. Hujan lebat sedari siang tadi dan belum juga mereda hingga selarut ini. Di tempat kerja tadi, aku sudah berharap dengan sangat akan kembali bertemu dengan sang dewi. Aku bahkan sudah membungkuskan dua potong brownies kukus bikinanku teruntuk Rindu.aku tak tahu apakah nanti dia akan menyukainya atau tidak, yang jelas sejauh ini toh belum ada yang berani menolak hasil karyaku di kerajaan pastry ku.Ah…sedang apa gerangan Rindu sekarang? gadis jelitaku itu bukan tak mungkin akan menari mengiringi irama hujan, berdendang riang seperti biasa sambil menatap rembulan, tergelak bahagia ketika dilihatnya kepalaku menyembul dari balik ilalang. Sebenarnya aku bisa saja menyusulnya ke danau, toh hanya berjarak dua blok dari kontrakanku sekarang tapi badai membuatku masygul karena bukan tak mungkin juga sekarang Rindu sedang terperangkap di dalam rumahnya. Yah…setidaknya ia tidak sepertiku, sendirian di malam buta tanpa teman bicara. Rindu masih tinggal bersama kedua orangtuanya, meskipun dengan keadaan yang masih tak ku mengerti. Jika ia bahagia…mengapa ia memohon kepadaku untuk membawanya pergi dari dunianya? Jika ia benar – benar bahagia…
Dan aku hanya tak bisa bertahan lebih lama lagi menunggu badai ini mereda. Aku memutuskan untuk pergi ke danau. Dengan atau tanpa Rindu. Aku penikmat malam, dan aku tak akan menyerah untuk menikmati malam dengan segala bentuknya. Maka kuterobos badai dengan perangkat penyambut badai. Jaket hangat dan tebal kiriman bunda bulan lalu, mantel hujan – model two pieces yang sedang In sekarang - , plus payung serta sepatu boots karet usangku – yang ini sisa banjir tahun lalu - . Sesaat aku menarik nafas panjang, bergegas kearah dapur dan membuka tudung saji. Brownies kukus untuk Rindu ( siapa tahu kan??) kemudian meyeruput secangkir kopi hangat. Berdoa yang terbaik untuk malam dan keajaibannya.
…
Pohon akasia itu masih kokoh berdiri. Dari jauh ia membuat lututku bergeter hebat, bagaimanapun…kadang hal – hal mistik yang menaungi setiap pohon tua dan besar berpengaruh kedalam kehidupan manusia kan?. Aku mendekat kearahnya, sekarang ia tampak lebih menentramkan..begitu rindang dan penuh pengayoman. Pandanganku kemudian beralih kearah danau, semoga saja airnya tidak meluap..harapku cemas. Aku menatap sekeliling tempat itu, tak ada sosok cantik itu. Dewi malamku rupanya menari dalam mimpi indahnya di rumah, pasti. Hujan masih mengguyur lebat dedaunan dan ilalang namun angin besar yang menakutkan itu mereda sudah. Aku memutuskan untuk duduk pada sebuah batang kayu di bawah akasia, menikmati malam, menikmati hujan, mencari rembulan, menantikan Rindu sang dewi malam. Entah…aku masih saja mencium wewangian harum khas Rindu, membayangkan jemarinya yang merayu untuk menari dibalik rerimbun ilalang di tepian danau. Ia begitu menawan, ia hinggap secara cepat ke dalam aliran darahku, menyumbat sisim kerja normal otakku. Begitu…mematikan, mematikanku dengan anggun hingga aku tak bisa melenggang angkuh kepada sang cinta lagi. “ Kraak…Tass..!!” . aku terkesiap, ranting akasia patah dan hampir saja menimpaku. Untung aku cepat menghindar. Argh…aku melihat kearah lipatan celana panjangku. Penuh Lumpur, cipratan ranting tadi. Lumpur?? Aku menyentuh percikan itu , membauinya dan perlahan mengamatinya. Ini bukan Lumpur! aku kembali tersentak. Firasatku buruk…ada darah yang menggenang disini. Ada darah disekitarku,apa yang terjadi???. Kembali aku mengamati tiap sudut danau. Kearah ilalang dan memutar dibalik rindangnya akasia untuk kemudian terkesiap…..
Itu Rindu! Ia tergeletak lemah disana dengan gaun putihnya yang penuh bercak lumpur dan darah.Tuhanku…apa yang terjadi padanya? Ia masih bernafas tapi terlihat amat pucat. Segera aku membawa dewiku pulang. Aku tak perduli lagi akan badai dan berharap akan tiba di rumah dengan cepat.
……..
“ Dia…mendatangiku lagi , berjanji tidak akan menyakitiku lagi. Katanya…Ia sudah lelah membenciku, ia akan mencoba menyayangiku, ia memelukku erat, yang aku tahu…mungkin ia hanya ingin membuatku merasa aman. Bahwa ia telah menyadari kesalahannya untuk tidak memukuliku lagi seperti biasanya. Dan…aku hanya terlalu…naïf!
Aku mengkasihaninya ketika pada akhirnya Ia bersimpuh dan menitikkan air matanya, memohon dengan sangat akan maafku. Dia Ayahku, kau harus tahu, dan meskipun Ia amat membenciku…ia tetap ayahku. Dan kenyataan bahwa ia tetap mencintai Bunda yang menjadi lumpuh karenaku, merawatnya dengan segenap hati, benar – benar membuatku luluh. Dia sudah berubah, aku yakin Ia berubah.
Aku terkejut ketika Ia tiba – tiba memagut bibirku, tersenyum namun membuatku takut. Atmosphere yang sama ketika ia hendak merajamku. Ia menarik tanganku kencang,lalu melemparkan tubuhku ke dipan. Menindihnya…ia…jahat!”
Argh….aku memeluk Rindu yang terisak. Membenamkannya, jauh dari peristiwa mengerikan itu. Rindu menatapku nanar, mengamatiku dalam – dalam. Sungguhpun dewiku, apapun yang terjadi padamu aku tak kan membiarkan air mata itu mengalir kembali atas nama kepedihan bukan kebahagiaan. Aku baru saja ingin menyampaikan pada Rindu bahwa akan lebih baik memasukkan Ayahnya kedalam bui, ketika ia sudah terlebih dahulu membatalkan niatku.
“Dia…ayahku. Satu – satunya orang yang ditunggu bunda setiap waktu, yang bisa membuatnya tersenyum. Aku…hanya tak ingin melihat bunda lebih menderita lagi dari keadaannya sekarang jika Ayah pergi. Jadi aku mohon,biarkan saja tetap seperti ini. Aku yakin, aku masih sanggup mengatasi semua..”
“Dengar Rindu, ia sudah amat keterlaluan padamu. Ia harus diberi pelajaran!”
“Tolong, aku hanya ingin untuk sekali ini saja, ada seseorang yang memahamiku, yang mendengarkan kata – kataku, menghormati keputusanku…”
“Kalau begitu…kita pergi saja dari sini sekarang..kau pernah bilang untuk pergi kan? Aku akan membawamu pergi kemanapun, sejauh mungkin dari tempat ini”
“Kau…terlampau mengamati kata – kataku ya? Dulu…aku juga sering bermimpi untuk pergi dari sini, dari mereka, tapi… aku bahkan tak sanggup melihat mata Bunda yang mengembun setiap kali aku mengatakan keinginanku..”
Rindu memang sudah menawanku dengan tariannya, dengan kelembutan hatinya, aku…hanya merasa kecil di bawah temaram matanya.Aku tak juga dapat mengerti jalan pikirannya. Aku hanya dapat berjanji untuk terus berada disampingnya, menemaninya menari setiap petang di tepian danau.
…….
Malam purnama, sebulan sesudah peristiwa itu, Rindu hanya terpaku di ayunan tua yang bergelayut pada dahan akasia yang kokoh. Ia tak lagi menari riang seperti malam – malamnya yang lalu. Ia kembali menahan senyum atas seikat mawar merah dariku. Aku tak mencoba memaksanya untuk mengatakan alasan kenapa riang di bola matanya menghilang. Rindu memutar pandangannya ke arahku. Lucu, aku masih selalu terpukau pada gerak – geriknya.
“Bagaimana ya rasanya jika tiba – tiba kita harus berhadapan dengan kehidupan lain yang mengakar di diri kita?” Ujar Rindu. Aku mengernyitkan dahi, mencoba menebak maksud perkataannya.
“Bila tiba – tiba ada sesuatu yang berkembang di dalam tubuhmu?” Ujarnya lagi. Aku menatapnya cemas. Kumohon Tuhan…jangan biarkan sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi pada dewiku.
“Aku…sepertinya sedang mengandung adikku…” Aku terhenyak. Rindu mengelus perutnya. Aku menghampirinya, berlutut dan terisak. Lemas…sebagian dari jiwaku menghilang, pria itu telah menumpahkan nila di jelaga. Rindu mengangkat wajahku, tersenyum. Kecemasan mendulang emas di wajahnya tapi ia tak lekang untuk menenangkanku.
“ Fajar nanti, aku akan membawa adikku serta untuk kembali pada rembulan…” ujarnya lebut. Dahiku mengernyit, mencoba memahami maksud dari perkataannya tadi.
“Aku titipkan Ibu padamu ya…, aku masih mampu menerima perlakuan Ayah selama ini. Aku hanya terlalu takut bahwa adikku nanti akan mengalami hal yang sama sepertiku. Aku tak akan membiarkan Ayah menyentuhnya, sekalipun dia adalah darah dagingnya sendiri. Aku ingin membawanya pergi sejauh mungkin” terangnya.
“Rindu…aku akan menemanimu, kita akan pergi jauh sayang..kau tak perlu lagi bertemu dengan Ayahmu” ujarku. Rindu menggeleng,
“Hanya akan ada aku dan adikku saja. Aku mohon…cobalah untuk mengerti..”
“Terlalu berbahaya bagimu untuk pergi seorang diri. Kenapa tak jua kau berikan aku kesempatan untuk membuktikan rasa sayangku? Rindu..aku menyayangimu!”
“Aku terlalu lelah menerima pembuktian rasa sayang. Dengarkan aku…aku menyukaimu, aku percaya padamu. Aku hanya…lelah.”
“Kau tak pernah mengeluh sebelumnya. Kau tak pernah menyerah. Setahuku kau adalah wanita terkuat yang berani menantang rembulan dengan tarianmu. Rindu…”
Rindu tetap tak bergeming, ia mematuhi betul keputusan yang telah diambilnya. Sungguhpun keputusan itu menyesakkan dadanya. Rindu kembali menahan isak tangis, menahan seruak kesal dan luapan emosinya. Kemudian, setelah tenggelam dalam tarian rembulan, rindu menghilang dengan meninggalkan butiran duka pada pelupuh mataku.
………
Aku masih merasa bahwa semuanya adalah cuplikan mimpi burukku saja. Sedikit memori indah tentang Rindu sang dewi malamku yang menghilang bersama redup rembulan. Malam itu, rindu gagal melarikan diri dari rumah. Ia diamuk oleh ayahnya dengan membabi buta. Dengan tertatih, ia menuju danau…terdiam. Tak lagi dihiraukannya aku yang memeluknya dengan cemas. Tatapannya kosong, rindu hanya terus memegangi perutnya, menahan sakit yang tak terperi.
“Bajingan itu…membunuh adikku. Membunuhnya…” ujar rindu dengan terbata – bata. Ia terus mengulangi perkatannya sambil menatap rembulan.
“Maafkan aku…aku tetap harus pergi tanpamu…aku lelah…”.tatapan matanya memelas, menyayatku. Sesaat setelahnya, sesudah kidung asmarandana selesai ia senandungkan, Rindu terlelap selamanya di pelukanku. Aku belum merasa pantas untuk memiliki sang dewi. Aku hanya akan terus merindukan tariannya pada rembulan dibalik rerimbun akasia.
No related posts.











November 19th, 2008 at 5:31 pm
Verry nice
November 19th, 2008 at 9:34 pm
good….good….good…..
November 20th, 2008 at 12:00 pm
ardhia, buat lbih bNyak l9 y… SEMANGAT!!!
November 26th, 2008 at 12:49 pm
November 26th, 2008 at 12:51 pm
November 26th, 2008 at 12:57 pm
hik hik hik …. ikut sedich gw… kok bisa sich nulis sampe ngebuat pembacanya larut dalam tulisan mu ardhia…. eh ngomong2 ajarin gw ya entar gw juga mau nulis nech.. tapi ga tau harus gimana awalnya, maklumlah baru (newbe)
. hey dhi gw tunggu loch tulisan lo yang berikutnya . peace & love
November 29th, 2008 at 12:15 pm
wuih….bagus banget……
ayo…ditunggu yah cerita laennya…
wah…mb ardhia ney T.O.P.B.G.T dah….
best writer eVer….
ciayaOooo……
December 29th, 2008 at 11:52 am
brilliant!!!
December 29th, 2008 at 11:54 am
šugoi desu ne!!!