Siti “Janyi Tika Puspitasari” Khadijah di Telingaku
Dia berkata kepadaku, “Bukankah banyak Khadijah di muka bumi ini untuk satu kau pilih ?”. Aku bilang iya, tapi aku belum menemukan aku yang mencintainya dan dia yang mencintai aku.
“Bukankah dapat kau jumpai Khadijah yang indah untuk kau pandang dan kau miliki di sekitarmu ?”, katanya lagi padaku. Entah, karena aku tak pernah tahu hati yang lain itu apakah sebaik rupanya. Aku berpikir bukankah rupawan itu tebalnya hanya sekulit ari dan akan berganti seiring waktu. Dan apalah arti itu tanpa aku tahu hakiki sebenarnya dari hati yang tak ku ketahui. Demi Tuhan aku bukan pembangkang karena aku tahu Tuhan menyukai segala hal yang indah untukNya.
Dan dia pun berbisik,”Sampai kapan kau tunggu Khadijahmu sampai ke pelukanmu ?”. Aku menunggu sampai Tuhan tak inginkan lagi aku menunggu.
“Percayakah kau cinta itu adalah air mata ?”, ucapnya terakhir kali kepadaku. Aku percaya karena dengan cinta air mata bahagia dan air mata duka sedemikan tipis antara keduanya. Bahkan dapat silih berganti dalam satu masa yang dilewati dengan satu yang dicinta.
No related posts.








