GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


FIRST

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

SLALAM KENAL UNTUK SEMUANYA…..

Rumah Kami

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Kubaca SMS itu dengan tangan dan bibir gemetar. Seseorang disana, disamping orang yang mengirim SMS itu pastilah meraung – raung hatinya, tersayat – sayat perih penuh air mata. Aku tidak sanggup lagi membayangkan apa yang akan terjadi. Dari sekian mimpi buruk yang selalu datang menghampiriku, inilah klimaks dari semua itu.

Kupandangi satu ruangan, mencari – cari sesuatu yang mungkin bisa menolongku, menolong orang – orang yang sedang memintaku untuk membantu mencari jalan keluar, tapi tidak ada lagi. Untukku meminta bantuan pada orang lainpun kurasa pasti tidak ada yang mampu lagi. Dan lagi – lagi aku terkunci. Terkunci dalam jalan buntu. Kekuatanku untuk bertahan kurasakan sangat nihil, apakah hanya sebatas ini kemampuanku untuk mencari solusi dari permasalahan yang sesungguhnya sangat besar, bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang yang kusayangi.

Aku berdiri, mengitari ruangan kecil yang kosong dengan pikiran yang kosong pula. Dimana Tuhan saat begini? Apakah tidak di saksikanNya kisah kami? Kisah yang membuat kami miris sendiri tanpa bisa berbuat apa – apa. Karena tiap sesuatu yang kami jalani adalah bumerang bagi diri kami sendiri. Aku tidak mampu untuk menangis, apalagi untuk menyesal, retorik tidak akan pernah berguna dan sia – sia saja. Ingin sekali aku keluar dari tubuh ini dan terbang melesat pergi mencari tempat tenang dan sepi. Tapi tenang dan sepi bukan juga jalan keluar.

Satu lagi kekeliruan stereotip yang tercipta, semakin di puncak, semakin kuat angin menerpa. Persetan dengan puncak, bahkan pondasi yang coba kami bangun kembali saja belum selesai, tapi bencana senantiasa merusaknya. Dan mungkin tidak lama lagi hancur bersama kami. Lalu apakah aku akan berdiam diri mematung begitu saja menyaksikan ini. Walaupun aku sadar tidak ada yang mampu kulakukan untuk membantu. Dimana peri baik hati yang selalu datang saat Cinderella begitu ingin datang ke pesta dansa? Dimana perahu Nuh itu?

Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku terkunci. Terkunci pada satu titik saja. Tidak yang lain. Cermin. Cermin segi empat dengan retakan – retakan kecil di tiap sudutnya. Kupandangi lama – lama gadis yang berdiri di dalamnya.
Sambil tetap memandangi diri di cermin, kutanggalkan pakaian, menggantinya dengan yang baru, mengusapkan beberapa kali warna peach di bibir, mengurai ikatan rambut dan mengusap wewangian di leher dan tangan.

*****

Terduduk di kursi paling ujung sebuah cafe tenda sendirian, satu – satunya yang masih buka di jam begini. Kulambaikan tangan pada pelayannya. Aku sudah selesai, tapi tidak satu butir nasipun yang berkurang dari piring di depanku. Pelayan itu cuma terbengong melihat makanan yang masih utuh disana. Kuserahkan sejumlah uang sesuai angka yang tertera di nota, lalu pergi tanpa bicara.
Kini sudah pukul. 02.30 dini hari. Sepi yang ada disekitarku terasa makin sepi. Kupasang tudung jacket di kepala menahan dingin, tubuhku seolah mati rasa. Terlebih saat sebuah mobil tiba – tiba menghentikanku. Mobil yang lagi – lagi tidak kukenal. Aku terhenti, mati rasa dan diam saja.
Kaca depan mobil itu terbuka perlahan, seorang pemuda berkacamata melongokkan kepaladan tersenyum. Senyum yang membuatku ingin muntah di wajahnya, walaupun akhirnya memaksaku untuk membalasnya dengan senyum juga.
“sendirian ?” tanyanya
“he em..” aku mengangguk
“mau gue anterin ?”
“nggak usah, naik taksi aja”

dia tertawa,

“dari mana datangnya taksi jam segini? Masa lo nggak tahu sih ? Ikut mobil gue aja…”
aku tersudut, lelah, terdiam dan terseyum, lalu menaikkan alis. Pemuda itu membuka pintu mobilnya, mempersilahkan aku duduk di samping setirnya. Sekarang aku duduk disana, dan mobil berjalan kembali. Kesekian kali untuk malam ini, dan kesekian hari untuk minggu ini.

*****

Aku terdiam di sudut ruangan, tetap mati rasa, bahkan lebih dari sebelumnya.
Pukul 04.15,dini hari. SMS itu datang lagi.
“aku nggak tau lagi mesti gimana, Ibu nangis terus..kami nggak tau apa yg akan terjadi besok. Kalo rumah benar-benar disegel besok. Kami nggak tau lagi dek..kami mesti gimana ?? Nggak ada lagi yang bisa dijual ato digadai”

Tertunduk lesu kuhembuskan sisa – sisa kekuatanku. Keletihanku benar – benar memuncak. Kuketik pelan huruf demi huruf yang seolah menertawakanku.

“besok pagi aq transfer duit kak, cuma itu yang bisa kupinjam dari temen2. Semoga orang bank mau mempertimbangkan lagi”

Kupandangi berlembar – lembar uang kertas di tanganku. Dulu uang sejumlah itu tidak ada artinya di tanganku, di tangan kami. Tiap satu sen yang terbuang begitu saja, perlahan mampu menghacurkan sebuah dinasti. Dan aku yakin sekali entah dimana, sekumpulan Nazar yang licik sedang menertawakan kehancuran kami. Menunggu kami mati sebelum menikmati bangkai – bangkai keluarga kami, keluargaku. Dan aku tidak mau itu terjadi. Hanya tinggal sebuah rumah yang kami miliki, tidak ada lagi yang lain. Rumah yang membangun kejayaan ayahku, ibuku, dan semua nama dalam keluargaku. Walaupun bukan istana namun penuh cerita, sedih dan bahagia. Tidak akan kubiarkan rumah penuh kenangan itu hanya akan jadi memori karena kebodohan masa lalu, kebodohan kami sendiri. Meski tidak ada lagi kebanggaan dalam tubuh – tubuh tiap orang di keluargaku, tapi setidaknya rumah itu tetap berdiri sebagai milik kami. Aku akan mencoba menghapus satu demi satu cop yang mencoreti dinding pagar, dan berusaha sekuat tenaga agar kertas apapun tidak bisa menempel disana. Apapun caranya, asal Ibuku berhenti menangisi keterpurukan yang kami alami.

Tiba – tiba kepalaku pusing dan perutku terasa mual…aku merasa seperti dicabik – cabik. Mual yang kutahan sejak melihat wajah orang – orang beberapa hari terakhir kini menjadi – jadi. Mual dengan semua yang telah kulakukan, semua terasa menjijikkan dan najis. Aku berlari terhuyung ke toilet mengeluarkan rasa pahit yang menjalari seluruh tubuh sampai tak bersisa. Kering dan perih.
Aku kembali mendapati cermin, menatap gadis setengah telanjang disana.
Jika semua ini kebaikan untuk semua, biarlah aku terhapus dari salah satunya. Asalkan mereka, orang – orang yang kusayang masih bisa berada dalam rumah kami, tertawa dan menangis bahagia.
Aku cukup saja berada dalam ruang kosong ini. Aku menyayangi mereka lebih dari diriku sendiri, jiwa dan tubuhku adalah abdi dari kebahagiaan orang yang kusayangi. Memang benar, terkadang keajaiban itu terlalu berlebihan untuk diharapkan bisa datang.

*****