Di hari libur nasional ini, saya baru saja menonton reportase hampir
semua televisi tentang serangan terhadap Ahmadiyah di Tasik,
Sukabumi dan Bogor. Serangan yang direkam dengan amat bagus oleh banyak
kameramen banyak media televisi itu, jalinan ceritanya dibuat ibarat
sinetron, sehingga menarik untuk ditonton; .Bagian pertama, dimulai dengan
pernyataan bersama pemda setempat, bersama para ulama dan pejabat dan aparat
penegak hukum. Melalui pernyataan bersama, mereka meminta pemerintah pusat
membubarkan Ahmadiyah karena sesat, menodai Islam dan meresahkan masyarakat.
Kalau tidak ada larangan mereka kuatir keresahan masyarakat itu bisa
menciptakan situasi anarkhis yang membahayakan persatuan bangsa.
Sesaat setelah pernyataan dibacakan beberapa wajah yang diambil mukanya
oleh televisi itu nampak sedih, tercenung, prihatin seperti menanggung
beban berat. Lalu muncullah iklan rokok Gudang-Garam, kampanye
mempertahankan piala Thomas-Uber dan jamu sari rapet wangi untuk wanita.
Bagian kedua, tiba tiba muncul orang berseragam putih, bersorban, wajah
wajah lugu, muka ndeso, mengamuk sambil membawa golok, senjata tajam,
tanpa alas kaki, berteriak memanggil Tuhan yang Maha agung, menyerbu dan
membakar bangunan masdjid, yang oleh penyiarnya disebut masdjid
Ahmadiyah. Lalu nampak beberapa orang lari ketakutan, dikejar
kejar dan dilempari batu oleh para penyerbu, muncul asap memumbung
tinggi, masdjid terbakar dan tak lama kemudian hancur. Adegan paling
menarik dan mengenaskan, adalah saat orang orang dengan muka ketakutan,
dilempari batu, lari tak tentu arah, dikejar oleh massa yang marah
sambil berteriak menyebut nama Tuhan.
Cara kerja para penyerbu juga sangat rapi, tertata dan terlatih dengan
baik. Penyerbuan cuma sebentar, karena masing masing sudah tahu apa
tugasnya. Setelah penyerbu pergi, ratusan polisi yang datang terlambat,
mengamankan lokasi kerusuhan, menangkap beberapa pelaku, tapi kemudian
dibebaskan atas jaminan pemda dan ulama. Acara makin menarik tapi uhh…
tiba tiba muncul lagi Iklan. Kali Ini iklan capres Wiranto yang
mengatakan Indonesia perlu pemimpin kuat, yang mampu menjaga NKRI,
menciptakan ketertipan dan keamanan dan menciptakan puluhan juta
lapangan kerja dalam waktu singkat. Hebat…Ini pemimpin
yang dibutuhkan saat ini. Ini janji yang sering saya dengar dari dulu,
termasuk dari presiden yang sekarang sedang enak berkuasa, janji yang
telah menghantarkannya jadi presiden, janji yang telah dilupakannya…
Bagian ketiga, diawali oleh bangunan masdjid yang hancur, asap yang
membumbung tinggi, massa yang marah, lalu kilas balik pembakaran puluhan
masdjid Ahmadyah seluruh Indonesia sejak tiga tahun terakhir. Rupanya
sudah ratusan masdjid Ahmadiyah dibakar, sekian jamaahnya dibunuh dan
dikejar. Dan Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan, bangsa ini memang
cinta damai, tak satupun pelakunya ditangkap. Lalu, aparat kepolisan
bersama pemda dan ulama, muka mereka amat lelah, membuat pernyataan
bersama, menyayangkan kerusuhan yang baru saja terjadi, yang dilakukan
oleh orang yang yang tak bertanggung- jawab dan meminta agar pemerintah
pusat segera melarang Ahmadiyah karena sesat dan meresahkan..
Sayangnya tak dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud sesat, siapa
yang berhak menyatakan sesat dan siapa saja yang resah, berapa
prosentase orang yang resah dan sebagainya. Kalau ada survey mengenai
ini mungkin tayangan ini menjadi lebih menarik untuk ditonton.
Dalam kasus ahmadiyah ini saya kagum oleh sikap aparat dan ulama yang
sangat responsif dan saling pengertian di antara mereka. Lugas, cepat
tanggap dan mudah bekerjasama. Kalau saja mereka melakukan hal yang sama
ketika menyaksikan rakyatnya resah karena antre minyak tanah, dipalak
oleh oknum aparat, digenangi Lumpur, dan sebagainya, mungkin keadaan
bangsa takkan seburuk ini.
Tiba tiba, uhh..muncul News; SBY muncul membuka sebuah acara di istana,
ia berjalan menuju panggung, hadirin yang berdasi berdiri, tepuk tangan
bergema, lalu SBY berpidato tanpa teks berjanji mendukung langkah KPK
memberantas korupsi, berjanji mendorong supremasi hukum, berjanji
menjaga NKRI, berjanji menjaga konsitusi, dan berjanji memberikan
perlakuan yang sama di depan hukum pada semua warganegara, tanpa
kecuali. Pidato yang bagus, tanpa teks. Saya terpesona olah kata katanya
yang terakhir itu; memberikan perlakuan yang sama kepada semua
warganegara tanpa kecuali. Inilah presiden yang dibutuhkan bangsa yang
sangat mejemuk ini. Lalu, tanpa terasa acara-pun berakhir. Pembawa acara
mengakhirinya dengan satu pertanyaan; "bagaimana nasib Ahmadiyah di
Indonesia ,..simak laporan menarik kami berikutnya". . Sungguh sebuah
tontonan bagus di hari libur ini.
Saya tak sabar menunggu tontonan berikut itu. Menyaksikan masdjid
dibakar lagi, menyaksikan manusia tak berdosa mati sia-sia, menyaksikan
menunggu pernyataan bersama orang penting itu …sebuah tontonan yang
menarik dan menghibur, yang takkan dijumpai di negara lain…
Ada baiknya bapak presiden bersama bapak wakil presiden, Ketua DPR dan
yang terhormat bapak Hidayat Nurwahid, bapak MUI, FPI dan tokoh ulama
lainnya, sesekali meluangkan waktu menonton bersama tayangan bagus itu.
Presiden konon menitikkan airmata waktu menonton ayat ayat cinta. Saya
sangat ingin tahu..bagaimana reaksi mereka bila menonton tayangan yang
baru saya saksikan siang ini…
[dari imel Elza Peldi Taher]