Senandung Cinta

Sudah lelah aku berjalan mengelilingi kompleks-kompleks perumahan, sudah terlalu larut untuk mencari koin penyambung hidup. Hasil kerjaku sedari pagi hanya cukup untuk makan nasi bungkus di warung pojok jalan. Di bawah pohon di pinggiran jalan aku duduk dan menyandarkan punggungku yang sudah sangat lelah. Sabtu malam ini jalanan sepi, tak kulihat kemacetan yang biasa terjadi di hari sabtu. Mungkin karena gerimis yang tak berhenti sejak sore. Di samping kananku terdapat jembatan penyeberangan jalan yang tak kulihat seorang pun melewatinya. Dan di kiri tak jauh dari tempatku duduk ada sebuah halte, di situ kulihat dua anak remaja sedang memadu cinta. Melihat penampilan mereka, kutahu mereka masih berumur belasan tahun. Si gadis berambut hitam panjang dengan poni pendek menutup alisnya. Ia memakai kaos pink bergambar SBY, dan memakai celana super pendek yang membuatku ingin selalu mengawasinya. Dan yang laki-laki bergaya rambut Mohawk, dengan kaos hitam bergambar tengkorak, dan memakai celana panjang hitam yang diplorot sampai kelihatan jelas celana dalamnya. Merah muda bermotif bunga. Mereka terlihat sedang bersenda gurau, tertawa-tawa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi yang kutahu pasti mereka tidak sedang membicarakan skandal Bank Century.
Gerimis hujan membuat bajuku basah, tak sampai kuyub. Tapi cukup untuk membuat tubuhku kedinginan. Kugelar sapu tangan usang, berwarna putih mangkak dan sedikit robek di ujungnya. Kumainkan gitar dan bernyanyi dengan sepenuh hati. Aku tahu dimalam yang gerimis seperti ini mustahil orang berhenti dan menyimak laguku. Tapi apa peduliku. Aku hanya bernyanyi untuk menghibur diriku sendiri.
Tak jauh dari tempatku duduk, tepatnya di samping kanan dan di bawah jembatan penyeberangan jalan, kulihat sebuah mobil mewah menepi. Entah mobil apa itu. Aku tak tahu. Karena tak pernah aku membaca catalog mobil mewah yang selalu dipegang oleh calon menteri saat dirinya akan dilantik. Dari mobil itu turun seorang wanita yang tak begitu jelas rupanya dari sini. Wanita itu berlari menaiki jembatan penyeberangan jalan, duduk di salah satu anak tangga dan menelangkupkan kedua telapak tangan menutup wajahnnya. Kemudian diikuti seorang pria yang juga turun dari mobil itu dan berlari kearah si wanita. Kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak. Sedikit pertengkaran dan akhirnya sang pria meninggalkan wanita itu disana sendirian. Huh, benar saja. Ceritanya cocok dengan sinetron kesayangan kita.
Mungkin sudah dua jam aku duduk dan menyanyi disini. Tapi tak satu koin pun mampir di sapu tanganku yang sudah basah dan kotor karena cipratan-cipratan ban mobil yang lewat ini.
Sebenarnya aku cuma ingin menjadi seniman ternama. Ya, gitar ini kubeli dari tabunganku yang kukumpulkan sejak aku duduk di bangku SD. Dan Cuma inilah hartaku yang paling berharga, dialah yang mengantarku pada kejayaanku yang bisa kuraih saat ini, dengan pakaian lusuh ini, pada tempat ini, suasana ini, dan ketenangan jiwa ini tanpa harus meributkan keputusan dari pansus skandal Bank Century.
Gerimis masih belum mau berhenti, dan di jalan hanya satu-dua kendaraan yang lewat. Hari ini pun tak ada pemasukan. Kuurungkan niatku saat kupikir akan pergi ke kos temanku, sudah terlalu sering aku menginap di tempatnya. Lebih baik nanti aku cari tempat yang sekiranya bisa untuk ku buat bermalam. Sungguh malang nasibku. Ah, sudahlah. Hari ini aku sudah cukup senang karena tadi sudah diberi krupuk gratis oleh penjual nasi bungkus. Sebaiknya sekarang aku mencari tempat tidurku, sebelum para seniman yang lain mendahulinya. Dan saat aku hendak berdiri dan merealisasikan pemikiranku…
KLING…
Sebuah koin lima ratusan jatuh diatas sapu tanganku yang warnanya sudah tak terkira lagi.
“Boleh minta satu lagu lagi,” terdengar suara lembut dari seorang wanita, “hari ini dia menyakitiku lagi.”
Spontan kumelihat kearah wajahnya. Dia… sungguh cantik.
Sudah sekian detik berlalu, aku masih terperangah. Mata indah yang berkaca-kaca, kulit putih yang halus terawat, rambut panjang terurai yang hitam berkilau, dan bibir tipis yang kemerahan . Dia adalah wanita impianku.
Rasanya… jantungku berdebar-debar.
“Maaf, aku minta satu lagu lagi,” suara lembut itu membuyarkan lamunanku, “boleh?”
“I…Iya tentu saja.” Kataku canggung dan mencoba menguasai diriku lagi, “sulit dipercaya jika ada orang yang menyakiti wanita secantik anda.”
Dari air mukanya kulihat kesedihan yang termat dalam.
“Entahlah, mungkin karena aku kurang sempurna di matanya,” entah apa yang ia ucapkan, aku masih terfokus pada indah wajahnya. Sungguh, selama dua puluh enam tahun tak pernah kulihat wanita secantik ini.
“Yah, mungkin karena itu.” Air matanya mulai mengalir di pipinya yang halus dan merona. “Ah, sudahlah. Hari ini pun aku akan pulang sendirian kerumah yang sepi.”
Ah…
“Aku bisa mengantarmu!” kataku spontan.
“Kenapa?”
“Ah, nggak.” Rupanya ia tidak dengar apa yang kukatakan barusan. Untunglah. “Oh ya, kalau boleh tahu. Nama anda siapa?”
“Hah?” dia terlihat sedikit terkejut, “namakuVivi.”
“Vivi…Putri cantik dari negeri Arabasta. Oh, nama yang indah.”
“Putri?”
“Ia.”
Dia tersenyum tipis. Cantik.
Kusandarkan gitar yang sedari tadi berada dipangkuanku, kemudian aku berdiri dan memandang awan hitam yang semakin tebal.
“Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Segeralah pulang.” Kataku dan melihat kearah wajahnya. “Tak baik bagi wanita seperti anda berjalan dimalam yang sepi seperti ini sendirian.”
“Tapi kamu kan belum menyanyikan lagu untukku!”
“Besok.” Kutatap lekat indah matanya.
Dia tersenyum. Lagi. “Besok?”
“Ia. Besok aku akan berada di sini seharian. Kemarilah, akan kunyanyikan lagu yang indah untuk anda.” Kataku memantapkannya. “Sekarang pulanglah.”
“Hm… baik. Besok aku akan kesini menagih sebuah lagu darimu.” Kemudian ia mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat.
Ia menatapku sebentar sebelum masuk ke dalam taksi. Aku hanya memberikan sedikit senyum dan mengangguk. Kemudian taksi pun melaju menelusuri jalan yang becek dan terlihat semakin jauh.
Jalanan sudah sangat sepi. Dingin angin malam mulai meraba tubuhku. Aku masih berdiri di tengah malam yang sunyi.
Rintik hujan membuat melodi indah yang memecah keheningan malam, angin bersiul-siul membuat ritme sajak indah, pohon-pohon mulai berdawai mengikuti irama hujan, dan senandung cinta pun mulai dinyanyikan.








