GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Hiburan’


Steven William Arti Sahabat

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Steven William Arti Sahabat Keren – Sinetron Arti Sahabat Indosiar tampaknya semakin tinggi ratingnya, Ternyata, inilah Steven William, Satu artis remaja yang berperan dalam Sinetron Arti sahabat dan banyak dicari beritanya oleh remaja di blog ini. Sebut saja Kevin Julio dan beberapa pemeran Arti Sahabat. Setelah tanggal 11 ini, sekarang Usia Steven William sudah 17 tahun.. Ketika di tanya sama Kiss selebriti indosiar apa harapannya memasuki usia 17 ini, Stefan bilang kalau dia Suka. Sinetron Arti Sahabat indosiar nanti berlatar belakang persahabatan dan percintaan.

Dan Sepertinya kebanyakan pemeran di Arti Sahabat masih remaja. Beberapa di antaranya tidak begitu asing, tapi kurang tau juga namanya, karna jujur aku tidak . Putry Nolita, paling ntar ada tayang ulangnya.. bwt STEVEN WILLIAM tolong mintakan nomr tlpn ny dunk hehe nih nomr w 081977219255 plizzz w sampe sakit mikirin dia. ni Linda. kenapa arti sahabat gak tayang setiap hari ya?

Soundtrack Sinetron Film Steven William Arti Sahabat adalah lagunya Mytha Mamamia, judulnya Tentang Mimpiku.. Ini bukan lagu baru tentunya, sudah keluar beberapa waktu yang lalu. Simak aja lirik Soundtrack Sinetron Arti Sahabat Indosiar dibawah ini. 48 komentar u’tuk “Soundtrack Sinetron Arti Sahabat – Tentang Mimpiku – Mytha Mamia”. keren banget film’a apa lagi ada steven william. I love U

Teori Asal : Kenapa Kalau Orang Kehujanan Kepalanya Bisa Pusing (Inspirasi Mio Soul)

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

sebenarnya saya ga yakin juga sama teori ini…

tapi ini asalnya dari hati nurani saya yang kemudian terlupakan…

Lantas diingatkan lagi oleh teman saya yang bernama Seger Prayitno (nama asli. sumpah) ketika kami sedang hujan-hujanan sembari menaiki sebuah Mio Soul milikku yang sampai sekarang masih dalam tahap pelunasan…

Teori Asal : Kenapa Orang Kalau Kepalanya Kehujanan Bisa Pusing ?

alat, bahan, dan kondisi yang memungkinkan :

1. sepasang mata yang masih dimiliki oleh orang hidup dan menempel dikepalanya

2. kondisi hujan angin yang sangat deras

3. sebuah topi/payung/helm full face/half face/caping/apapun yang bisa menutupi kepala dan memperbaiki pandangan akibat hujan angin

saya juga bingung mau mulai darimana…
semoga sebuah cerita ini dapat membantu…

KAMI

Itu kami, sedang berjalan (lebih tepatnya : mengendarai sepeda motor) menuju ke sebuah mall bobrok di sudut kota,

Mio Soul milikku berjalan melenggang melewati cewek-cewek cakep yang sedang ngabuburit (ini sedang bulan puasa)

Sampai di mall kami langsung menuju tempat tujuan : TOKO PERALATAN KOMPUTER SERBA ADA : PRODUKSI IMPOR TAPI UDAH RAKITAN

MENGHABISKAN UANG

kebetulan temanku itu baru beli laptop,
yang katanya bagus setelah meminta pendapatku tentang laptopnya yang langsung saja kujawab, bagus.

lantas kamipun berbelanja (lebih tepatnya ‘dia’, karena hanya temanku yg punya uang sementara aku sedang dalam masa pailit akibat mundur dari tempat kerjaku)

Cooler, mouse, headset, dan sebuah modem broadband-pun akhirnya masuk kedalam sebuah plastik putih.
Total 476800 rupiah, termasuk Ppn karena kami taat pajak.

PULANG

menuju basement, kami akhirnya menyalakan mesin Mio Soul-ku (lebih tepatnya ‘aku’, karena kalau dua orang yang menyalakn sebuah motor, nanti takut dianggap pencurian)

pulang, kamipun melihat cewek-cewek cakep tadi masih ngabuburit dengan kurang kerjaannya.

HUJAN DERAS

tak terasa, wanita-wanita itupun terlewati…

BYUUURRR (efek suara hujan deras mendadak yang disertai angin)

hujan tak terelakkan..
berteduhlah kami di bawah sebuah halte depan RS yang juga merupakan Pangkalan Ojeg (atau Ojek)

DETIK DEMI DETIK

hujan tetap mengguyur,
seraya melontarkan kutukan pada diri sendiri, kenapa gue ga punya mobil ? karena gue ga punya duit buat beli.
akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan disertai dengan Rahmat Tuhan berupa Hujan, setelah setengah jam menunggu.

PENYEBAB AWAL

begitulah,
kamipun hujan hujanan..
disinilah awal semua itu terjadi..
dengan pandangan yang mengabur, aku (sebagai Mio Driver) akhirnya harus mengernyitkan dahi dan merapatkan mata, agar smua bisa terlihat lebih jelas…

aku dalam kondisi seperti itu kurang lebih setengah jam, didukung sebuah helm half face tanpa kaca yang terkutuk…

SETIBA DIRUMAH

kepalaku mendadak pusing…
mandi guyuran sono, seru ibuku
aku lantas bergegas mandi..
dengan air hangat yang sangat nyaman…
membasuh seluruh tubuh dengan kenikmatan tiada tara…
hingga akhirnya pusingku hilang seketika…

MENULIS NOTES

Teori Asal (bukan Teori Awal) Penyebab Utama Pusing :

1. Hawa dingin pada saat kondisi basah dan berangin membuat tubuh melakukan penyusutan (bahasa ilmiahnya saya ngga tau) pada bagian-bagian otot dan pembekuan pada aliran darah

2. Sebuah kernyitan di dahi yang cukup lama, menyebabkan sebuah tarikan pada kepala yang menyebabkan penyumbatan darah, sehingga darah tidak lancar menuju otak, ditambah pembekuan darah karena udara.

Teori Asal (sekali lagi, bukan Teori Awal) Penyebab Pusing Dapat Sembuh Seketika:

1. Guyuran di kepal ketika mandi. sebenarnya tak perlu menggunakan air hangat, air biasa saja sudah cukup.
Air di bak mandi dalam ruangan memiliki temperatur suhu ruang.
Lebih hangat dibandingkan dengan suhu luar dengan kondisi cuaca sedang hujan.
Jangan pernah mandi menggunakan air yang berada diluar ruangan saat cuaca hujan (atau air hujan). Karena, biasanya, suhu air lebih dingin dibandingkan dengan suhu udara.

2. Aliran darah melancar. Setelah terjadi perubahan suhu pada kepala (atau aliran darah) menjadi hangat, darah-darah yang beku, akibat suhu yang dingin, mencair kembali mengisi setiap rongga aliran darah yang kosong, sehingga pusing dapat hilang seketika.

TIPS :

1. Bisa juga gunakan produk lain untuk melancarkan aliran darah dengan menghangatkan tubuh. misal : balsem (bukan balsem yang digunakan untuk mumifikasi), minyak kayu putih, dan produk sejenis

2. Poin ini sudah saya beritahukan hal ini diatas, bahkan sebelum kisah ini dimulai.
>Gunakan penutup kepala yang juuga dapat memperbaiki pandangan
misal : topi dengan gaya moncong bebek, caping, helm dengan kaca

Kenapa ?

Air hujan yang mengarah langsung ke mata-lah yang dapat menghalangi pandangan. Benda-benda tersebut dapat sedikit menahan air hujan yang jatuh langsung kemata.

Jangan sekali-sekali menggunakan penutup kepala model bandana,
itu tidak akan membantu (kurasa)

Sekian..
Semoga bermanfaat

NB :
>Ini hanya teori imajiner saya tanpa didukung oleh sebuah penelitian lebih lanjut kecuali pengalaman.
>Tidak ada maksud untuk membodohi kecuali untuk hiburan semata.
>Kisah diatas sebagian nyata, sebagian rekayasa.

Paranoia

AddThis Social Bookmark Button SocialTwist Tell-a-Friend Lintas Beritakan

Tanpa lampu kamar ini terasa amat sempit. Sesak. Tapi biarlah. Lampu hanya membuat silau dan menyakiti mata. Mempertontonkan apa yang tak seharusnya dipertontonkan di bawah cahayanya. Ranjang yang kutiduri mulai keras. Mungkin malam ini aku tak akan bisa tidur lagi. Bulan hijau limau membeku di langit gelap yang bening seakan mengejek.
Sreeeettt….
Sreeeettt….
Ugh! Suara itu lagi! Benar-benar merusak pendengaran. Apa wanita itu tidak tahu kalau pendengaranku sangat sensitif? Tak habis pikir aku, dia yang melahirkanku tapi di dunia ini dia yang paling tak mengerti aku! Wanita sialan itu benar-benar berisik, ini sudah malam, dan sepertinya insomniaku kumat lagi dan dia malah berisik seperti itu?
Hhhhh…. Kuhela napas keras-keras. Suara itu berhenti. Entah apa yang dilakukan wanita itu sekarang. Mungkin dia sadar aku kesal lalu terdiam dan menangis? Entahlah. Lagipula buat apa menangis kalau toh dia akan mengulanginya lagi? Ah, sial, kenapa malam ini panas sekali sih? Aku butuh minum…
Dengan berat kuseret langkahku turun dari ranjang menuju ke dapur. Kunyalakan lampu dapur. Seberkas sinar putih memancar dan menyirami dapur. Sejenak kupejamkan mataku. Silau. Kusambar gelas yang paling dekat dari jangkauanku. Kuambil cerek. Kosong. Termos… pasti ada air di termos. Sial, di mana pula termos sial itu? Saat aku butuh begini benda itu malah… oh, benda itu ada di bawah meja rupanya. Aku merangkak turun ke kolong meja. Baru separuh badanku merayap memasuki kolong, sesuatu melintasiku dengan cepat. Napasku terhenti karena kaget. Aku berpaling untuk melihat apa yang melintasiku barusan. Mendadak ibuku sudah berada tepat di belakangku. Tatapannya terpaku pada wajahku.
“Ibu?! Apa yang ibu lakukan di kolong….”
Wajah ibuku menghilang. Kuamati sekelilingku dengan lebih seksama. Seekor tikus balik menatapku dengan matanya yang kecil. Oh. Tikus. Sesaat tadi kupikir ibuku. Kupalingkan lagi wajahku. Pinggangku terasa pegal akibat lama menoleh dalam posisi merayap begini. Kuulurkan tanganku untuk meraih termos itu, termos itu ringan dan saat kutengok ternyata termos itu benar-benar kosong. Sialan!
Dengan susah payah kutarik tubuhku keluar dari kolong meja. Tubuh ini mulai lamban dan bergelambir di mana-mana. Padahal dulu aku sering fitness. Tanpa sepengetahuan ibuku tentu saja. Entah kenapa ia tak pernah bisa menyukai olahraga, apalagi olahraga yang banyak wanitanya memakai kostum olahraga yang minim. Dosa katanya mengumbar aurat seperti itu, dan jika aku sampai ketahuan mengagumi wanita seperti itu ia akan mulai mengkritikku dengan suara pedasnya yang sangat tak enak didengar lalu mengkhotbahiku panjang lebar, mengataiku berotak ngeres dan berpikiran mesum. Wanita gila. Ah air…
Kubuka kulkas yang membatu. Bau freon membekap penciumanku. Kulkasnya tak menyala. Memang sudah agak lama kulkas ini mati. Kalau kulkas ini toh tetap berada di sini hanya semata-mata karena kulkas ini peninggalan bapak. Salah satu dari sekian banyak harta berharga ibu yang diberikan oleh bapak. Kulkas kosong.
Dasar wanita gila! Merebus air saja tak pernah! Dia memang pemalas sekali, kalau bukan terlalu sibuk merawat dirinya, pasti sedang mencari-cari kesalahan orang. Kalau tidak dua-duanya pasti bergolek-golek di ranjang dengan malas, dengan pakaian tidur yang kalau dikenakan wanita lain pasti sudah membuatnya merepet tiada henti. Jika hal itu ditanyakan padanya ia hanya akan beralasan bahwa ia hanya memakainya di hadapan keluarga, bukannya mengobralkannya ke mana-mana. Herannya, almarhum bapak justru setengah mati memuja ibu yang seperti itu. Apapun yang dikatakan wanita itu bapak selalu menurut. Kalau ibu bilang aku nakal, dengan segera bapak akan mengamplengku, menyeretku ke gudang, mengunciku di sana dan baru melepaskanku kalau ibu yang minta, lalu ibu akan pura-pura menangis dan bertanya apa yang telah ia perbuat sampai aku bisa jadi seperti ini. Menjengkelkan sekali. Ah, tapi sudahlah, yang penting sekarang adalah merebus air. Aku haus. Haus sekali.
Kuletakkan cerek berisi air di atas kompor. Kenop kompor gas harus kuputar tiga-empat kali dulu baru bisa menyala. Tidak ada barang yang beres di rumah ini. Kusingkirkan peralatan dapur dan sampah yang menumpuk di atas meja dapur. Aku duduk di bangku dengan kepala kuletakkan di meja dapur. Kucoba memejamkan mata. Tubuhku terasa berat, sudah lama aku tak pernah bisa tidur dengan beres, dan apa yang lebih menyiksa daripada tidak bisa tidur saat kau mengantuk?
Sreeettt…
Sreeettt…
Ugh! Dasar! Sekarang apa lagi yang ia cakar sampai aku bisa mendengarnya dengan begitu jelas begitu?
“Iya bu, iya! Aku tahu! Aku tak akan tidur sampai air mendidih dan kompor kumatikan!”
Benar-benar wanita sakit. Takut kompor meledak karena kutinggal tidur? Bah! Kalau begitu sekalian saja kuledakkan rumah ini. Pasti menyenangkan melihatnya meratap-ratap menangisi peninggalan bapak yang terbakar habis jadi abu. Biar semakin rasa dia! Bapak sudah mati! Ingat itu wanita sial, mati! M-A-T-I! Biar dia meratap-ratap tak akan ada lagi yang membela dia. Tak ada yang akan mengamplengku kalau aku mencaci maki ibuku. Ah, gawat, gawat. Mikir apa aku ini. Bagaimanapun dia itu tetap ibuku. Kalau begini aku yang akan dicaci dunia sebagai anak durhaka. Brengsek. Padahal saat ia mengadukan kenakalanku pada bapak (agar aku dikampleng! Dia senang sekali melihat bapak menyabetku dengan ikat pinggang, menjewer dan menyiksaku sampai aku klenger) tak ada yang bilang dia wanita setan. Tak ada yang bilang bapak gendruwo. Mereka bilang itu demi kebaikanku. Mereka bilang itu pendidikan.
Sreeettt…
Sreeettt…
“Ibu diam! Ini sudah malam, berisik!” teriakku jengkel.
Cerek di atas kompor mulai bersiul disertai desisan lembut. Kumatikan kompor. Kutuang air dari cerek ke dalam gelas.
Prangggg!!!
Sial! Sial! Sial! Sekarang gelasnya malah pecah. Bodohnya aku, lupa akan pelajaran IPA dasar tentang reaksi yang terjadi jika gelas kaca dituangi air mendidih. Dalam keterkejutan, kubanting cerek ke lantai. Tutupnya terlepas dan menggelinding. Kakiku sempat tertimpa cerek panas, dan air yang tumpah menggenangi lantai dapur terasa merebus kakiku. Sakit.
Terpincang-pincang, kubawa diriku ke kamar mandi. Merendam kakiku yang melepuh dalam air dingin sampai sakitnya agak mereda. Air yang mengalir dari keran kembali mengingatkanku pada tenggorokanku yang kering dan lengket. Sudahlah. Malam ini biar aku minum air keran saja. Gluk-gluk-gluk. Nah begini. Dingin, segar.
Kumatikan lampu-lampu yang menyala dan kembali ke kamar. Kuhempaskan tubuhku ke atas ranjang keras yang bau dan berantakan itu. Kupandangi langit-langit kamar, mencoba berdoa. Dulu, jika sedang tak bisa tidur ibuku akan bangun dan berdoa. Hahaha, ya, berdoa. Doa dan dosa memang cuma beda satu huruf, dan dalam kenyataan pun seringkali kedua hal itu tak banyak bedanya. Sial, tak satu doa pun yang bisa kuingat. Mencoba merangkai doa sendiri malah membuatku merasa bodoh. Berusaha mendengar suara Tuhan semakin membuatku merasa sinting. Lagipula apa yang mau kuminta pada Tuhan? Tak akan terkabul. Cibirku dalam hati. Lagipula kalau semua bisa terkabul lewat doa manusia sudah nggak perlu apa-apa lagi untuk mempertahankan hidupnya. Berdoa saja terus tiap hari!
Sreeettt…
Sreeettt…
“Heh bu, apa-apaan sih? Mau tidur denganku? Ibu tidur sendiri saja! Aku kepanasan kalau ibu tidur denganku. Ibu tahu kan kalau aku tidak tahan panas?”
Sreeettt…
Sreeettt…
“Aku sudah matikan kompor bu! Ada apa lagi sih?! Aku juga sudah berdoa. Tadi waktu ibu panggil aku sedang berdoa! Ibu mengganggu saja!”
Sreeettt…
Sreeettt…
Oh ya! Aku belum gosok gigi. Ah dasar wanita sialan, sekali-kali tidak gosok gigi juga tidak akan mati. Tapi biarlah. Daripada wanita itu berisik mendingan sekali ini kuturuti perintahnya. Gosok gigi minimal dua menit. Begitu perintahnya selalu setiap aku mau tidur. Katanya supaya gigiku tetap sehat. Gigiku memang selalu sehat dan aku bisa bilang dengan bangga kalau gigiku tak ada yang bolong, tapi untuk apa gigi sehat kalau penampilanku sekarang seperti ini? Tak akan ada wanita yang mau melirikku untuk kedua kalinya.
Ah aku jadi ingat kekasihku. Satu-satunya wanita yang mau menerimaku apa adanya, beserta ibu yang nyinyir itu. Wanita itu benar-benar pengertian. Walaupun ibu sudah mencacimakinya dan mengata-ngatainya dengan sangat kurang ajar ia tetap mau pacaran denganku. Sampai akhirnya, ibu memilih memenjarakanku di sini karena tahu bahwa tekad baja wanita itu tak bisa dilawan. Ya, ia tak sanggup menghadapi kekasihku maka aku yang kena getahnya. Sejak hari itu, ke kantor pun aku tak boleh. Di rumah terus sepanjang hari. Untung bagi penyihir itu, bapak meninggalkannya harta berlimpah. Uang, perhiasan, tanah. Hanya saja, sejak itu lama-lama ibu jadi aneh. Ia jadi jarang terlihat. Pada awalnya tentu saja itu menyenangkanku. Aku jadi bisa bebas dari pengamatan dan cecarannya yang menjengkelkan itu. Tapi itu tak berlangsung lama. Belakangan aku sadar, entah dari mana ibu masih selalu memonitor seluruh aktivitasku di rumah ini. Dan ia tetap mengendalikanku sepenuhnya melalui suara cakaran kuku yang terdengar di manapun seolah mengikutiku itu.
Ah, gosok gigi. Dua menit minimal. Dan cuci kaki. Cuci tangan dan wajah. Aku kembali ke kamar. Mematikan lampu dan menelentangkan diri dengan simetris di atas ranjang. Tangan terlipat di atas dada. Memejamkan mata, berusaha untuk terlihat tidur. Mungkin kalau aku terlihat tidur dengan meyakinkan ia akan berhenti menggangguku, walaupun kuragukan itu.
Sreeettt…
Sreeettt…
Suara sial itu terdengar lagi. Aku berusaha abai sebisanya. Pura-pura tidur. Ia pasti sedang mengetes apakah aku benar-benar tidur atau tidak. Lagipula kalaupun aku tidak bisa tidur lalu kenapa? Mau menyuruhku memijatnya sampai ia tertidur? Tak sudi! Kenapa ia tidak cari suami baru saja daripada merecokiku terus seperti ini? Hmmmph! Pura-pura menangisi kematian bapak segala. Padahal ia sebenarnya hanya menangisi ketidakberdayaannya tanpa bapak. Ya, bu, ingatlah. Tak akan ada yang membelamu dariku lagi.
Sreeettt…
Sreeettt…
Kubalikkan badan. Kututup kepalaku dengan bantal. Sedang apa sih wanita gila itu? Apa ia berniat untuk tidak tidur semalaman? Sakit. Sakit. Sakit. Benar-benar sakit.
Sreeettt…
Sreeettt…
Apa? Ia menggeledah barang-barangku lagi?
“Cukup bu, semua pisau sudah kukembalikan ke dapur! Tak ada benda tajam lagi di lemariku!”
Suara cakaran itu berhenti. Aku menghela napas lagi tanpa sadar. Mulai merasa nyaman dan tenang. Kurasa aku jatuh tertidur untuk sesaat. Hanya sesaat, karena saat aku terbangun kudengar bunyi yang selalu menguntitku itu dari bawah tempat tidur:
Sreeettt…
Sreeettt…
Kututup telingaku dengan tangan. Benar-benar sudah gila. Tapi bunyi itu masih terus terdengar membayangiku.
Sreeettt…
Sreeettt…
Cukup! Aku tak tahan lagi. Kuambil pisau dapur. Yang paling besar dan paling tajam. Kupotong kedua telingaku. Pedas menjalari wajahku. Darah bercucuran. Sakit, tapi aku tak peduli. Seharusnya dengan begini aku tak bisa mendengar apa-apa lagi. Sungguh, akan kulakukan apapun agar aku bisa lepas dari suara itu; dari perintah-perintahnya dan keinginan-keinginannya yang tak ada habisnya dan tak masuk akal sama sekali. Cukup sudah! Aku tak berniat menghabiskan seluruh hidupku menjadi abdi tiran wanita itu. CUKUP!
Sreeettt…
Sreeettt…
Gila! Dari mana suara-suara itu? Bahkan tanpa daun telinga begini aku masih bisa mendengarnya dengan jelas? Oh, ya, pasti karena hanya daun telinga yang kupotong. Untuk menjadi tuli mungkin aku harus merusak seluruh saluran telingaku. Ya, korek saja saluran telingaku sampai hancur!
Sreeettt…
Sreeettt…
Korek terus telingaku, biar aku jadi tuli! Biar aku tak usah mendengar apa-apa lagi.
Sreeettt…
Sreeettt…
Ini benar-benar gila! Aku tak tahan lagi…
Sreeettt…
Sreeettt…
Kesadaranku perlahan-lahan mengabur tapi suara itu tetap bergema begitu jelas. Di mana sumbernya? Bagaimana aku bisa terus-menerus mendengarnya begini? Ah entahlah. Aku tak peduli. Aku lelah. Kuharap sekali ini aku bisa tidur.
Sreeettt…
Sreeettt…
Sinting… benar-benar sinting. Dari bawah tempat tidur kulihat sepotong tangan menggapai-gapai. Tangan ibuku. Tapi aku benar-benar sudah tak peduli… aku capek…

***
Bulan hijau limau membeku di langit gelap nan bening. Bulan yang sama dengan bulan di malam naas itu. Ya, malam itu wanita itu, seperti biasa memaksa untuk tidur sambil memeluk putranya dan menyanyikan lagu tidur kanak-kanak di telinga sang putra. Di antara lagu tidur yang ia senandungkan, tak lupa ia juga mendoakan sang putra, agar selamanya tak akan pernah terpisah darinya dan selalu berbakti padanya.
Mendengar doa sang ibu, kalap membakar sang anak lelaki. Ibunya telah merampas kemerdekaannya, merampas orang-orang yang dianggapnya keluarga, tak mengizinkannya mencintai siapapun selain sang ibu. Berkali mencoba bunuh diri pun tak ada gunanya; ibuya selalu menggagalkannya dan mengingatkannya bahwa jika ia mencintai sang ibu maka ia tak boleh mati.
Anak lelaki yang kalap itu membenturkan kepala sang ibu ke tembok. Dalam kepanikannya saat diserang putranya, jemari wanita itu berkali-kali mencakar tembok; berusaha menggapai sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan hidupnya, namun sia-sia. Seakan belum cukup, lelaki itu menikam sang ibu berkali-kali lalu menyembunyikan jenazahnya di kolong tempat tidur, namun demikian ia tetap tak bisa keluar dari rumah itu. Seluruh akses ke luar dikunci ibunya, dan ia tak bisa mendapatkan kuncinya. Dalam depresinya, ia terus mendengar ibunya mencakar tembok; suara yang terus menghantuinya. Ya, baginya ibunya sama sekali tidak mati, dan terus membayanginya. Meyakinkan bahwa sang putra masih berada dalam cengkeramannya.

***

Pemeriksaan polisi telah berakhir. Kedua jenazah sudah diserahkan padaku selaku orang terdekat yang disinggung dalam surat wasiat korban dan aku pun sudah menunaikan kewajibanku pada kedua mayat itu. Upacara pemakaman juga sudah usai, dan kompleks pekuburan sudah lengang. Sekarang aku sudah tak perlu pura-pura bersedih lagi. Kutatap batu nisan kekasihku untuk terakhir kalinya, lalu aku berbalik meninggalkannya, tapi baru dua langkah aku berjalan, sebuah suara tertangkap pendengaranku.
Sreeettt…
Sreeettt…
Suara yang sangat aneh, seperti suara orang menggaruk sesuatu. Kubalikkan badan. Tak ada seorangpun selain aku. Hmm, pasti cuma perasaanku saja. Jangan dendam sayang, tapi kita memang tak bisa bersama kan? Ya, aku agak bersyukur dia mati. Mungkin itu memang yang terbaik untuk kami karena aku pun sejujurnya tak berniat menikahi seorang lelaki sakit jiwa.
Kali ini kutinggalkan nisan itu. Selamanya.
Sreeettt…
Sreeettt…
Teror merayapi tubuhku. Mendadak saja udara jadi terasa kian dingin. Entah kenapa mataku tertarik pada pahatan kata-kata di nisan kekasihku; kata-kata yang ditemukan di tembok kamarnya, tepat di atas tempat tidurnya:
Has your breath stopped now?
Has your heart turned cold?
Are you watching me?
How much longer will you condemn me?
How much longer will you be following me?*

* Paranoia pt.3 (Epik High ft. TBNY)

  • @Facebook

    Peluang Bisnis Oriflame