GagasMedia.Com

Komunitas Penulis Indonesia, Publish Tulisan atau Opini Anda Disini !
Random Image

Resep Nusantara


Archive for the ‘Serba - Serbi’


MARI MENGENAL CINTA

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Turatea, 10/09/2005  Coba tengadah, cahaya mataku, pandanglah bebaris awan. Mereka berarak rapi mengundang angin. Lihatlah burung-burung yang terbang rendah, melayah di sela bukit. Bergegas menuju sarang senja. Lihatlah matahari yang bertengger sejengkal di atas ambang cakrawala. Pulau Kayangan yang bertabur warna kuning keemasan. Dan Pantai Losari mulai dikerubuti para penjaja. Sungguh, barangkali kelak kamu masih bisa mencecap pisang epe di kaki senja. Enak, nak. Hari ini, matahari ke seratus duapuluh yang telah kamu jalani, cahaya mataku. Tiga putaran bulan kamu selasari sejarah kehidupan baru. Telahkah kamu kenali cinta, cahaya mataku? Tahukah kamu hakekat cinta sejati? Tahukah kamu makna cinta hakiki? Tahukah kamu bagaimana mengeja cinta abadi? Sungguh, cahaya mataku, cinta yang hakiki, sejati dan abadi, tak pernah mampu kita selami, selama kita masih memenjara hati dengan memelihara rerupa cinta-cinta dunia. Ayahmu ini, cahaya mataku, bukanlah seorang pujangga yang mampu merangkai kata sedemikian indah. Atahmu ini pun bukan seorang sastrawan yang piawai memainkan kata-kata. Ayahmu ini juga bukanlah seorang guru bahasa yang mengerti betul tata krama menulis dan struktur bahasa. Ayahmu ini hanya seorang manusia biasa, yang ’kebetulan’ bisa membaca, apalagi membaca cinta. Ayahmu ini hanya seorang pencinta kata-kata. Ayahmu ini hanya penikmat sastra, yang sesekali menggumam lirih membaca puisi yang indah dan sarat makna. Tapi, cahaya mataku, ayahmu ini ingin berbagi tahu. Pengetahuan tentang cinta. Bukan karena ayahmu ini serba tahu perihal cinta dari a sampai z. Bukan pula karena merasa paling mengerti tentang cinta. Apalagi sampai merasa ’sok tahu’. Semoga Sang Pemilik Segala Cinta memberi cinta yang selalu berlebih. Yang jelas, ayah hanya ingin memberi secercah pencerah. Ayah ’ngeri’, jangan sampai kelak kamu mengeja makna cinta dari beribu sinetron Indonesia. Tak ada maksud ayahmu ini apriori terhadap sinetron anak bangsa, apalagi membecinya. Ayah hanya miris dengan penetrasi cinta menurut versi sinetron Indonesia, yang porsinya lebih pada ’kelas tinggi’, selingkuh, rebutan cinta, atau rumah gedong yang kering kasih sayang. Bukan cinta ’monyet’ yang hendak kita bahas di sini, cahaya mataku, melainkan cinta yang hakiki. Cinta sejati. Cinta tanpa tandingan. Cinta tanpa pembanding. Cinta yang dibangun berdasarkan syariat dengan iman sebagai podasinya. Bukan yang tidak mengikuti syariat dan dibangun atas nama syahwat. Dulu, sewaktu bundamu masih berstatus calon bundamu, ia sempat bertanya pada ayah, ”Benarkan ada cinta sejati?” Waktu itu, ayah menjawab, ”Ada.” ”Di mana?” cecar bundamu. ”Di sini,” jawab ayah sembari menunjuk dada, bukan hati.  Maksudnya adalah cinta yang bersemayam di kalbu. Di ruh kita. Di jiwa kita. Cinta yang (1) mencinta karena cinta kepada-Nya, dan (2) dicinta pun karena cinta kepada-Nya. Tentu saja, cinta monyet tidaklah masuk dalam barisan cinta sejati. Begitu pun dengan cinta berasas nafsu. Ketika cinta kita terpatri hanya kepada Kekasih Yang Maha Tunggal. Kekasih Yang Menyayangi tanpa pilih sayang dan Mengasihi tanpa pilih kasih, maka tak satupun derita akan tumbuh karena cinta. Waktu itu, bundamu bertanya lagi,  ”Lantas mengapa ada gadis yang nyaris bunuh diri hanya karena putus cinta?” Ayah menjawab sebatas yang ayah tahu, ”Itu karena mereka buta tentang cinta. Mereka baru mengenal cinta dari kulit luarnya. Mereka kurang menyerap dederet fatwa perihal cinta yang luar biasa. Bahwa janganlah kita mencintai seseorang secara berlebihan, boleh jadi suatu ketika ia menjadi sangat kita benci. Pun, jangan sampai kita membenci seseorang dengan benci yang paling benci, jangan sampai suatu ketika benci itu berubah menjadi cinta yang sebenar-benarnya cinta.” ”Ah, bingung.” Sahut bundamu.  Ya, manakala kita sakit tak tertanggungkan karena mencinta seseorang, bukan karena Dia, maka cinta kita itu hanyalah cinta yang fana dan pasti akan binasa. Tetapi, jika kita mencinta hanya semata karena cinta kepad Dia, maka ketika ’sang manusia’ yang kita cintai itu berbalik membenci kita, dunia takkan kiamat, karena kita sadar bahwa ada rahasia ’hebat’ yang disembunyikan oleh-Nya dari peristiwa itu. Jadi, cinta-Nya adalah cinta sebenarnya. Bukan cinta imitasi. Ada lima tanda-tanda cinta sejati, cahaya mataku. Pertama, selalu mengingat-ingat. Ketika syahadat cinta kita ikrarkan, sejak itu cinta kita total semata kepada-Nya. Total 24 jam. Tanpa sedetik, apalagi semenit, yang terlewati karena lupa mengingat-Nya. Maka, ketika sang doi mengajak ’bercengkerama’ berduaan di tempat hiburan, yang dalam bahasa sekarang disebut ’melepas rindu’, maka kita mengingat betapa Dia melarang kita berdua-duaan. Ketika sang ’idaman hati’ meminta panjar berupa pegangan tangan atau sekadar kecupan sayang di kening, kita sadar bahwa segala perbuatan kita di bawah pengawasan Malaikat, pesuruh-Nya.  Kedua, cahaya mataku, adalah selalu mengagumi. Ketika kita menyatakan deklarasi cinta, maka selalu kita merasa kagum kepada-Nya. Maka, ketika rindu karena lama tak bersua dengan sang ’impian’, kita sadari bahwa yang ganteng dan yang cantik semuanya adalah ciptaan-Nya. Sehingga yang pantas kita kagumi bukanlah yang ganteng dan yang cantik itu, melainkan yang menciptakan kegantengan dan kecantikan itu. Mungkin perlu kamu camkan, cahaya mataku, petuah bijak Buya Hamka, ”Kekaguman tanpa cinta suatu ketika akan melahirkan pemujaan, sedangkan cinta tanpa kekaguman suatu saat akan menjadi pengingkaran.” Ketiga, cahaya mataku, adalah selalu rela. Rela menjadikan Dia sebagi kekasih. Rela menjadikan Dia sebagai pencipta, pengatur, pemberi perintah dan larangan, pemberi pertolongan dan ampunan. Maka, memintalh hanya kepada-Nya, seperti pun berlindunglah hanya kepada-Nya. Dia adalah Tuan sekaligus sesembahan. Dia adalah kerinduan dan kecintaan. Dia tumpuan dan harapan. Dia segalanya. Keempat, cahaya mataku, selalu siap berkorban. Karena cinta adalah mengabdi, maka kita yang mencinta-Nya selalu siap untuk mengabdi pada-Nya. Mengabdi dengan ikhlas. Mengabdi sepenuh cinta. Mengabdi tanpa pamrih. Memberi tanpa bermaksud mengharap imbalan yang setimpal apalagi ’hadiah’ yang berlebihan.  Kelima, cahaya mataku, selalu menaati. Ketika kita janji nge-date dengan-Nya, janji itu harus dipenuhi. Manakala kita berjanji untuk setia, janji itu harus ditunaikan. Dengan taat. Taat yang bukan didominasi oleh rasa takut. Taat yang bukan dipuji oleh keinginan dipuji. Taat yang hakiki.  Jadi, cahaya mataku, hakikat cinta sejati adalah mencintai apa dan siapa saja yang dicintai oleh Dia, dan membenci apa dan siapa saja yang dibenci oleh Dia. Dia itulah cinta sejati. Dia yang tak tertangkap oleh indera. Yang tak kasat mata. Yang tak tersentuh secara badani. Dia hanya ada di kalbu kita, di palung jiwa.  Lihat, cahaya mataku, matahari senja sedang berkelahi dengan kaki langit. Sebentar lagi ia pulang kepangkuan malam. Dan, Losari selalu menyisakan kenangan. Merekam jejak sejarah. Semoga, kita semua, selalu menemukan cinta sejati-Nya.Wallahu a’lam bishshawab. Catatan: tulisan ini rencananya akan dibukukan dengan judul, ”Catatan Cinta Seorang Ayah: Rahasia Mendidik Anak Sepenuh Hati.” Mohon perkenan pembaca memberikan komentarnya. Bisa ke e-mail saya khrisnapabichara@gmail.com atau kunjungi http://www.cotomacazzart.blogspot.com

ATAS NAMA CINTA

AddThis Social Bookmark Button apply.web.id Lintas Beritakan

Turatea, 01/06/2005  Tidur, cahaya mataku, tidurlah tenang. Tidurlah tenang dalam lembut rahim bundamu. Mungkin kamu sudah tak sabar terkungkung dalam dunia sempitmu. Tapi, sabarlah. Ya, sabarlah. Kelak, engkau pasti akan mengejuti isi bumi dengan dahsyat tangis pertamamu. Malam ini, tetaplah tenang di rahim bundamu. Ketahuilah, cahaya mataku, dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: ”Akulah Tuhan dan Aku Yang Maha Pengasih. Aku ciptakan rahim dan aku berikan padanya sebuah nama yang berasal dari namaku sendiri …” (H.R. Ahmad ibn Hanbal) Apakah makna hadis qudsi itu, cahaya mataku? Jelas, dengan gamblang Allah menegaskan bahwa dalam diri setiap perempuan, bukan hanya hatinya yang memiliki potensi untuk menyalurkan cinta-Nya, tetapi juga rahimnya. Mengapa Allah menamakan tempatmu kini bermukim itu ”rahim”? Bukan ”rahman” atau nama yang lain? Karena rahim, menurut ahli bahasa Arab, berasal dari akar yang sama dengan rasa belas kasih, rasa sayang, dan rasa selalu ingin melindungi. Jadi, adalah hal alami, jika bundamu menjadikan dirinya sumber kasih sayang bagimu, seperti halnya Allah menjadi sumber kasih sayang bagi jagat raya beserta seluruh isinya ini. Bahkan, cahaya mataku, proses mengandung merupakan sebuah jalan spiritual bagi bundamu untuk menumbuhkan sifat Allah dalam dirinya. Rasa lemah selama kehamilan menjadi tak terasa karena keikhlasan mencinta dan keinginan berserah hanya kepada Allah. Kekuatan hati yang bersandar hanya kepada Allah ini berpengaruh besar pada harapan bundamu, terutama pada keselamatan dan kesehatanmu. Sungguh, sebagai lelaki, ayahmu tidak akan pernah dikaruniai pengalaman mahal ini. Cahaya mataku, mungkin kelak kamu bertanya, ”Lalu, apa saja peran ayah selama proses kehamilan?” Peran ayah, cahaya mataku, tidaklah sebanding dengan saham bundamu, yang membawamu ke mana saja, kapan saja, dan di mana saja. Ayahmu ini, saban hari hanya bisa melantunkan doa-doa. Berharap, semoga isteri dan janinnya selamat, itu saja. Tak lebih, tak kurang. Ayahmu ini, cahaya mataku, setiap hari hanya bisa membesarkan hati bundamu, supaya kelemahan yang menyertai kehamilannya tidak mengganggu kestabilan emosi bundamu. Itulah mengapa sehingga surga itu berada di telapak kaki bundamu, bukan di tapak kaki ayahmu. Maka, sayangilah bundamu, cahaya mataku. Sebagaimana sayangnya ia padamu, sewaktu kamu dalam dekap rahimnya. ¤¤¤ Sungguh, cahaya mataku, hari-hari penantian kelahiranmu serasa berjalan amat lamban. Setiap hari ayah terbebani rerupa pikiran dan beribu kecemasan. Bagaimana kelak kira-kira rupamu? Akankah seperti bundamu, ayahmu, kakek-nenekmu, atau entah siapa? Begitu pun sifatmu, akan semirip siapa? Apa saja kekurangan-kekuranganmu? Apa saja kelebihan-kelebihanmu? Mancung atau pesekkah hidungmu? Hitam atau putihkah kulitmu? Apakah ada dekik di pipimu laksana lesung pipi bundamu? Dan seterusnya, dan sebagainya. Setiap malam, danseterusnya dan sebagainya itu, selalu menari di benak ayah. Meski sebenarnya bagi ayah, dan juga bundamu, kamu adalah kamu. Bukankah di muka bumi ini, tak ada satu pun manusia yang sama persis dengan manusia lainnya, bahkan kembar siam sekali pun? Dan ketidaksamaan itu, menurut pala ahli waris nabi, adalah salah satu tanda kebesaran dan kehebatan Yang Maha Bisa Segalanya. Selain itu, cahaya mataku, ayahmu yang hingga kini masih bertahan dalam status ’penganggur’, saban malam dibingungkan oleh kata-kata: bagaimana, berapa, dan dari mana kelak biaya kelahiranmu. Itulah mengapa ayahmu yang miskin ini, memilih kamu dilahirkan di Jeneponto, bukan di Bogor. Karena, cahaya mataku, di sini biaya persalinan relatif murah, masih terjangkau. Sementara di Bogor, biaya persalinan (seperti yang ayah dengar dari Iwan Fals) tersangkut di awan-awan. Tapi, cahaya mataku, kekhawatiran ayahmu ini, tidak pernah dibiarkan membias di raut wajah. Bukan karena ayah tinggi hati, tak lebih karena ayah tak mau bundamu was-was dan tidak tenang. Ya, dibanding kebingungan-kebingungan itu, ayah lebih mementingkan keselamatan bundamu, dan tentu saja: kamu. Meski begitu, cahaya mataku, ayah selalu percaya bahwa Yang Bisa Apa Saja selalu menjamin tersedianya rejeki bagi setiap makhluk yang diberi-Nya kehidupan, bahkan binatang melata sekali pun. ¤¤¤ Tidurlah, cahaya mataku, tidurlah tenang. Atas nama cinta, ayah-bundamu akan selalu berjaga. Dan, terjaga. Menjagamu. Atas nama Allah, ayah-bundamu senantiasa rindu menunggu hari lahirmu.