Cerpen : Syair Cinta Di Jiwa

SYAIR CINTA DI JIWA
Tatapan perempuan itu begitu kosong. Jauh sekali ia memandang ke hamparan hijau di lembah bukit, tapi sebenarnya tak disana ia jatuhkan sinar matanya. Yang ada hanya sebuah senyum terkembang dari seorang pujaan hatinya. Begitu digilainya dengan sepenuh jiwa dan perasaan yang kemudian disebutnya sebagai cinta. Wajah manis itu, ramah tuturnya, lembut hatinya. Akh… perfect, batinnya.
“ Furqon, aku sayang kamu. Banget” ucap Livi, perempuan itu lirih.
“ Me too” lawan bicaranya tersenyum pelan. Matanya yang tajam menengadah pada langit sore yang jingga. Semakin erat ia menggenggam tangan perempuan cantik di sampingnya. Genggaman yang sejurus kemudian melahirkan kehangatan yang slalu dirasakan perempuan itu sebagai suatu kekuatan. Ia juga merebahkan dirinya di atas pasir putih pantai di samping Furqon. Menyimak deburan ombak, yang setiap kali sampai di pantai selaksa mengamini hubungan cinta yang tumbuh dari persahabatan itu.
Livi sendiri tak pernah tahu darimana dan kapan awal kali ia merasakan tenteram ketika dekat Furqon. Merasa dilindungi. Kemudian rasa itu menelusup ke dalam hatinya. Tanpa disadari, dalam kurun waktu bertahun – tahun. Tersimpan menjadi rahasia. Jika kemudian kini mereka dipertemukan kembali dan diberikan kesempatan berbagi, berbicara mengenai volume hati mereka yang begitu penuh. Maka tak perlu kau tebak. Karena bila ini juga terjadi padamu, kebahagiaan yang sama akan segera kau rasakan.
“Apa kamu tahu seberapa dalam lautan ini ?” Livi memecah hening.
Furqon hanya menggeleng. “Tentu saja tidak”tandasnya.
“Apa kau juga tak tahu Furqon, seberapa banyak molekul air di dalamnya hingga menjelma menjadi ombak yang sesekali mematikan ketika badai. Namun ketika angin berdesir penuh persahabatan, ia tak lagi beringas, bahkan menggoda manusia untuk datang padanya, sekedar bermain percikan air. Dan lautan itu juga punya banyak sungai – sungai kecil, harapan – harapan kecilnya, kemudian mereka dipertemukan di muara”
Furqon menarik nafasnya dalam – dalam. Sementara Livi terus berceloteh. Dia memang sangat suka bercerita, terutama ketika moodnya sedang baik. Dan Furqon lebih sering dapat membuat moodnya membaik.
“Kau mungkin juga tidak tahu seberapa besar cintaku padamu”. Livi melanjutkan bicaranya, karena sebenarnya ke arah pertanyaan inilah cerita sekilas tentang air laut dibicarakannya sedari tadi. Furqon juga memahami ini. Mengenal Livi selama 8 tahun membuatnya mengerti Livi hampir seluruhnya. Tentang keluarganya, hidupnya, lebih –lebih tentang hatinya.
“Aku tahu Li…” jawab Furqon lekas. “Aku tahu Li, kamu sungguh mencintaiku” ulangnya. Di lihatnya wajah kekasih hatihya itu, ada lukisan senyum, Indah….
Livi sungguh mempercayai Furqon melebihi siapapun. Sejak bertemu lagi, Livi tak pernah absen bercerita pada Furqon. Ia bukan sekedar menganggap Furqon sebagai teman baik, sahabat, kakak yang baik, dan kekasih hatinya. Dalam kesadarannya sebagai perempuan angkuh, ia telah kalah pada kebesaran cintanya. Furqon. Betapa Furqon menjaganya agar tak terluka. Kisah
“Tapi Li… kita juga harusr tahu bagaimana kapasitasku dalam kisah kita”
Livi hanya tersenyum tipis lalu “Tadi sempat kubilang padamu. Lautan memiliki sungai – sungai kecil sebagai harapan kecilnya. Dan aku percaya asalkan kita memilki banyak harapan sekalipun terpetak menjadi kotak – kotak asal kecil, maka perbedaan pemikiran kita dapat diatasi. Berikut semua rintangannya. Seperti air tawar yang mengalir dari sungai. Mereka akan menjadi sama asinnya ketika di lautan” tutur Livi.
“Livi…” Furqon menatap lekat kekasihnya. “Aku mencintaimu sejak lama” lanjutnya. “Meskipun aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu padaku. Itu sudah bertahun – tahun berlalu. Aku masih mengagumimu dengan cintaku hingga kini. Semakin kucoba terlupa, yang ada hanya siksa. Aku semakin mencinta. Tapi, sekali lagi, aku tak berdaya dengan keadaan ini. Begitu mengharapkanmu tapi tak bisa benar – benar dapat kuperjuangkan menjadi sesuatu yang nyata. Mungkin hati kita diciptakan untuk satu tapi tidak untuk kita bersama”.
Livi begitu tenang mendengarkan lelaki di sampingnya. Cairan di matanya meleleh tak tertahankan. Ia beranjak dari rebahnya. Melihat ke tengah laut, berharap kesedihan yang mulai mengganggunya menjauh diterbangkan angin dan dihempas ombak.
“Livi…. Aku datang padamu hari ini, agar kita bisa membicarakan semuanya lebih jelas. Dengan kepala dingin. Agar kita dapat memutuskan sesuatu dengan benar. Aku tak ingin kau bersedih”
“Apa maksudmu ?. Aku hanya ingin denganmu”. Livi berupaya meredam marah yang nyaris meledak. Telah beberapa minggu sebelumnya mereka sering membicarakan ini. Selalu gagal menemukan keputusan yang dapat diterima keduanya. Furqon berharap perpisahan akan menyelesaikan kebimbangan yang tak ada ujungnya. Kebimbangan akan dibawa kemanakah perasaannya. Sedang Livi, ingin melanjutkan semuanya, mewujudkan mimpinya berada di sisi Furqon selamanya sekalipun ia mengerti keadaan yang sungguh rumit membentang menjadi penghalang cintanya. Ia bertekad mempertahankan perasaannya.
“Li… bukankah tidak semua yang kita ingin dapat kita capai. Dan setiap hal itu selalu indah pada waktunya. Tuhan telah mengaturnya sedemikian rupa. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita dan orang – orang di sekeliling kita”.
Mata Livi masih basah. Lebih banyak mengucurkan air mata. Sesekali nafasnya tersendat menahan isak yang pecah di dadanya. Furqon tak pernah bisa melihat kekasihnya bersedih. Lantas mendekap Livi. Berharap dekapan itu sama seperti biasanya, dapat menenangkan Livi dari sedihnya. Bagaimanapun sulitnya melepas Livi. Furqon merasa perlu melakukannya. Semakin lama bukan semakin baik, tapi perasaan saling membutuhkan akan makin kuat, menuntut dan bahkan menyakiti banyak orang di sekeliling mereka. Furqon tak ingin itu terjadi.
“Rasanya aku tahu apa yang ingin kau katakan Furqon…., tapi lanjutkan saja !. aku ingin mendengarnya. Mungkin saja kau memang tak pernah menganggapku ada. Dan prediksiku tentangmu akan menjadi benar. Ini jelas skenariomu. Kau pasti merencanakan semua ini sejak awal. Datang padaku kemudian meninggalkanku saat kau merasa aku tak lagi kau butuhkan di hatimu. Aku juga tahu, aku bukan nilai yang pantas kau kejar. Hanya lembaran – lembaran soal ujian yang ada dalamn hidupmu. Cukup kau pelajari, kau pahami, kemudian kau selesaikan. Dan nilai yang kau dapat akan diingat, bukan bagaimana soal itu mengujimu. Teruskan saja kalimatmu ….”
“Kembalilah padanya Li…. Dia lebih berhak memilikimu. Aku relakan kau untuknya. Aku berharap kelak kau berbahagia. Dengan begitu maka aku juga akan berbahagia” Furqon menyelesaikan kalimatnya. Bagaimanapun juga ia harus melepas perempuan yang dicintainya itu, membiarkannya kembali pada kekasih halalnya. Karena betapapun Furqon mencintainya sudah tak lagi berarti untuk keadaan yang demikian. Cinta yang pernah bersemi kembali, kini harus dengan penuh kerelaan hati dibiarkannya mengering dengan maksud akan tumbuh lebih subur di tempat yang seharusnya. Furqon dengan hati terpaksa melepas keindahan ini…
Sementara tangis Livi makin menjadi. Usaha Furqon menenangkannya tak lagi berguna. Kalimat perpisahan yang sedemikian rapi telah disusunnya agar tak lebih menyakiti Livi tak memiliki manfaat. Hanya rasa sakit yang kemudian menguasai Livi, menjalar terbawa peredaran darah di tubuhnya. Mengendap di kemudian hari. Meninggalkan ketidaknyamanan di hidupnya dalam waktu yang cukup lama. Kalimat – kalimat itu berbaris begitu sempurna dalam pikiran Livi.
Namun di masa berikutnyas, Livi merasakan keindahan yang sangat. Dalam hatinya ia merasa pujaan hatinya telah kembali. Keadaan tlah berpihak padanya. Setiap saat ia dapat melihat senyum Furqon. Pikirnya tak pernah habis membaca kembali lembaran – lembaran cinta mereka. Terekam dalam jiwa, menjadi syair cinta yang menemani sepanjang hidupnya. Ia telah memiliki Furqon, cinta terlarangnya hanya dalam pikir dan khayalnya saja.
Sementara setiap mata di sekelilingnya seperti teriris setiap kali menatap perempuan sakit itu. Andai saja pernikahan itu tak pernah mereka paksakan terjadi. Barangkali Livi dan Furqon telah dapat menyatukan mereka dalam kebahagiaan cinta yang direstui. Mereka telah membuat kesalahan dengan berpikir bahwa perempuan akan baik – baik saja dengan kecukupan harta. Tapi Livi tak sama. Akan ada Livi lagi jika kita tak mau memahami hasrat hati orang lain, kemudian mencoba menelisik lebih jauh ke dalamnya setelah itu barulah memutuskan sesuatu. Ini cerita Livi dengan syair cinta yang menari dalam ketidakwarasan jiwanya. Apa kau mengalaminya ?
Sumenep, 12 Maret 2010








